BERTUAHPOS — Kecerdasan buatan atau AI, bisa menjadi alat pembunuh, kata Mantan CEO Google, Eric Schmidt.
Dia secara terbuka memperingatkan bahwa AI berpotensi menjadi alat mematikan jika disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan harus diakui bahwa ini menjadi sisi gelap dari pesatnya perkembangan dunia teknologi.
Pernyataan ini disampaikan Schmidt saat berbicara di ajang Sifted Summit di London, Rabu, 9 Oktober 2025. Baginya, teknologi AI yang kini berkembang pesat dapat melampaui bahaya senjata nuklir. Oleh sebab itu, penggunaannya haruslah diawasi secara ketat.
Proses pelatihan AI memungkinkan model “belajar banyak hal,” termasuk hal-hal berbahaya. “Contoh buruknya adalah ketika mereka belajar bagaimana cara membunuh seseorang,” ujarnya dikutip dari CNN.
Schmidt menjelaskan, model AI baik yang bersifat terbuka maupun tertutup rentan diretas untuk menghapus pembatas keamanan atau guardrails.
Dia mengakui bahwa perusahaan besar sudah menerapkan batasan ketat untuk mencegah penyalahgunaan, namun tetap ada risiko model direkayasa ulang atau dijailbreak.
Dia mencontohkan kasus DAN (Do Anything Now), versi modifikasi ChatGPT pada 2023, yang sengaja dibuat agar mampu menyalahi aturan keamanannya sendiri. Versi itu bahkan “dipaksa” menjawab perintah terlarang dengan ancaman kematian fiktif.
Schmidt menilai, industri teknologi belum memiliki mekanisme pencegahan penyebaran AI berbahaya secara global. Tanpa regulasi yang kuat, teknologi ini bisa disalahgunakan oleh kelompok teroris atau negara yang tidak bertanggung jawab.
Peringatan Schmidt sejalan dengan pandangan Elon Musk yang pernah menyebut risiko AI bisa menyerupai skenario film Terminator.
Keduanya menegaskan, kemajuan AI harus diimbangi pengawasan ketat agar manfaatnya tidak berubah menjadi ancaman bagi umat manusia.***









