BERTUAHPOS — Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mulai melakukan transformasi sistem transportasi massal melalui rencana uji coba operasional belasan armada bus listrik pada tahun 2026.
Langkah ini diklaim menjadi bagian dari strategi meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mendorong transportasi ramah lingkungan di Kota Bertuah.
Bus berbasis energi baterai tersebut disiapkan untuk memperkuat layanan Bus Trans Metro Pekanbaru (TMP) di sejumlah koridor utama dengan tingkat mobilitas masyarakat yang tinggi.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menegaskan bahwa armada bus listrik yang akan beroperasi masih berstatus uji coba dan belum masuk tahap pembelian permanen oleh pemerintah daerah.
“Kita sedang memperbaiki sistem transportasi umum di Pekanbaru. Ada tambahan bus listrik, tapi ini bukan pembelian, melainkan masih tahap uji coba,” kata Agung Nugroho, di Pekanbaru.
Menurutnya, penggunaan bus listrik menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap sistem transportasi kota yang selama ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenyamanan hingga efisiensi operasional.
Selain menghadirkan kendaraan baru, Pemkot juga mempercepat pembenahan fasilitas pendukung, termasuk perbaikan halte yang kerap dikeluhkan masyarakat karena dinilai kurang nyaman dan tidak representatif.
Pemkot turut mengevaluasi manajemen operasional Trans Metro Pekanbaru, khususnya terkait ketepatan waktu kedatangan armada di setiap halte. Pemerintah menilai jadwal yang tidak konsisten menjadi salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat menggunakan transportasi umum.
Agung menekankan bahwa ketepatan waktu menjadi faktor utama dalam membangun kembali kepercayaan publik terhadap layanan transportasi massal.
“Tidak hanya busnya yang diperbaiki, fasilitas juga dibenahi, dan ketepatan waktu sekarang menjadi fokus utama,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemkot Pekanbaru juga tengah mengkaji perubahan sistem pengelolaan operasional bus TMP agar lebih profesional dan efisien. Pemerintah membuka peluang keterlibatan pihak swasta dalam pengoperasian layanan transportasi tersebut.
Skema yang dipertimbangkan adalah Buy The Service (BTS), yakni pemerintah membayar layanan operator berdasarkan jarak tempuh operasional, bukan mengelola armada secara langsung.
Model ini dinilai mampu mengurangi beban biaya perawatan kendaraan sekaligus meningkatkan standar pelayanan kepada masyarakat.
Pemkot Pekanbaru optimistis transformasi ini dapat menghadirkan sistem transportasi modern yang efisien energi, berkelanjutan, dan setara dengan layanan transportasi di kota-kota metropolitan nasional.***









