BERTUAHPOS.COM – Sebanyak 919 Kepala Keluarga (KK) di Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, tengah menghadapi krisis air bersih. Pemerintah desa setempat mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah daerah untuk mendistribusikan air bersih ke seluruh dusun yang terdampak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Pejukutan, I Made Arsana Atmaja, menyebut kekurangan air bersih merupakan persoalan tahunan. “Warga kami mengajukan permohonan bantuan. Warga di semua dusun kekurangan air bersih,” kata Arsana saat dihubungi, Senin (31/8/2026).
Desa Pejukutan memiliki lima dusun dengan total 919 KK. Krisis air mulai dirasakan sejak Juni dan diperkirakan berlangsung hingga Desember 2026.
Arsana menjelaskan, warga di desanya masih mengandalkan air hujan sebagai sumber utama. Tidak adanya sumur bor membuat mereka sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
“Tidak ada air sumur bor dari bawah. Kalau musim kering begini enggak ada hujan, otomatis kering,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah oleh beban ekonomi yang harus ditanggung warga. Selama ini, mereka terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk air sebanyak 1.100 liter, warga harus membayar sekitar Rp150.000. Beban ini dirasakan setiap tahun selama musim kemarau.
“Kalau beli itu dari tahun ke tahun kemarin beli terus,” kata Arsana.
Menanggapi permohonan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klungkung, I Putu Widiada, mengerahkan bantuan air bersih. Distribusi dilakukan bersama Damkar dan PDAM Klungkung.
Bantuan mulai disalurkan sejak Jumat (28/8/2026). Dalam tiga hari, sebanyak 38.000 liter air telah didistribusikan ke warga yang membutuhkan.
Rinciannya, pada Jumat sebanyak 14.000 liter dikirim ke Banjar Cemlagi. Keesokan harinya, Sabtu, 10.000 liter disalurkan ke Banjar Pelilit.
Sementara pada Minggu (30/8/2026), distribusi kembali dilakukan ke Banjar Cemlagi dengan jumlah yang sama seperti hari pertama, yakni 14.000 liter.
“Air ditampung di sumur maupun penampungan yang sebelumnya telah dikoordinasikan dengan pemerintah desa,” jelas Widiada.
Untuk mendistribusikan air, BPBD menggunakan dua mobil tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Armada tersebut berasal dari Damkar dan BPBD Provinsi Bali.
Selain itu, satu mobil tangki PDAM dengan kapasitas 4.000 liter juga ikut dikerahkan. Total armada yang beroperasi mencapai tiga unit mobil tangki.
Arsana berharap bantuan air bersih dapat terus diberikan hingga musim kemarau berakhir pada Desember 2026. Tujuannya untuk meringankan beban masyarakat, khususnya dalam hal pembelian air.
“Harapan kami di desa, kalau bisa dibantu sampai dengan bulan Desember. Untuk membantu meringankan beban masyarakat kami, khususnya dalam beli air,” tutup Arsana.






