BERTUAHPOS – Kelapa mungkin terlihat sederhana, namun dari lahan rakyat hingga meja ekspor, komoditas ini memegang peran penting dalam rantai ekonomi Indonesia. Sayangnya, data terbaru menunjukkan bahwa produksi kelapa nasional masih bertumpu pada satu provinsi, yakni Riau. Tepatnya di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).
Menurut data Badan Pusat Statistik periode 2019–2023, Riau tercatat sebagai penghasil kelapa dalam dan kelapa hibrida terbesar di Indonesia. Provinsi ini menyumbang lebih dari 333 ribu ton kelapa setiap tahun atau 11,39 persen secara nasional, dan hampir 69 ribu ton kelapa hibrida per tahun atau 72,38 dari nasional.
Fakta bahwa hampir seluruh produksi kelapa hibrida Riau berasal dari Indragiri Hilir — mencapai 98% — menjadi cerminan ketimpangan distribusi geografis. Padahal kelapa dalam ditanam di 33 provinsi dan dominan di kebun rakyat, sedangkan kelapa hibrida hanya tersebar di 16 provinsi dan banyak dikuasai oleh swasta.
Ketergantungan semacam ini berisiko tinggi. Jika satu daerah mengalami bencana alam atau krisis infrastruktur, pasokan nasional bisa terganggu. Apalagi, dalam lima tahun terakhir, tren produksi kelapa nasional cenderung stagnan.
Di tengah kabar menggembirakan soal naiknya harga kelapa yang membuat petani sumringah, muncul kekhawatiran serius dari Staf Khusus Bappenas, Sukmo. Ia juga menjabat sebagai Koordinator Lapangan Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi Kelapa Nasional.
“Kita memang senang petani tersenyum karena harga naik. Tapi di balik itu, ada ancaman serius: peremajaan pohon kelapa belum berjalan optimal,” ujar Sukmo saat ditemui usai pertemuan di Kantor Gubernur Riau pada Mei lalu.
Menurutnya, Indonesia masih belum memiliki data yang akurat soal luas kebun kelapa secara nasional, termasuk jumlah pohon tua yang sudah tidak produktif. Tanpa pemetaan yang jelas dan langkah konkret, masa depan industri kelapa nasional bisa berada di ujung tanduk.
“Kita harus mulai dari dasar. Hitung ulang luas lahan, identifikasi pohon-pohon tua, siapkan bibit unggul, dan perluas kebun kelapa. Ini penting agar kita tetap jadi salah satu pusat kelapa dunia,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, Satgas Hilirisasi Kelapa telah turun langsung meninjau pusat pembibitan kelapa di Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Faktanya pola pembibitan yang dilakukan masih sangat tradisional.
Ia menyebut, kunjungan itu menjadi pijakan awal untuk menyusun roadmap hilirisasi kelapa secara nasional.
Roadmap tersebut nantinya akan berisi strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan kualitas produksi, dan memastikan keberlanjutan industri kelapa dari hulu ke hilir.
“Jangan sampai kita terlena dengan harga yang sementara tinggi, tapi justru kehilangan masa depan kelapa. Roadmap ini akan jadi panduan bersama untuk mencegah harga anjlok dan menjaga kelapa tetap jadi komoditas unggulan Indonesia,” tutup Sukmo.***









