BERTUAHPOS — Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Regional Riau hingga akhir Desember 2025 mencatatkan defisit sebesar Rp5.635,18 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan defisit pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp10.495,31 miliar.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau, Heni Kartikawati, menyampaikan capaian tersebut dalam pemaparan kinerja fiskal regional, Rabu, 21 Januari 2026. Ia menilai kondisi APBN Riau menunjukkan perbaikan, terutama dari sisi penerimaan negara.
“APBN Regional Riau hingga akhir Desember 2025 mencatatkan defisit Rp5.635,18 miliar. Defisit ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” ujar Heni.
Heni menjelaskan, realisasi penerimaan APBN di Riau hingga Desember 2025 mencapai Rp26.347,41 miliar, atau 129,16% dari target. Secara tahunan (year on year/yoy), penerimaan tersebut tumbuh 17,41%.
Capaian ini didorong terutama oleh kinerja Bea dan Cukai yang mencatatkan pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya tonase ekspor dari Riau. “Penerimaan APBN 2025 berhasil melampaui target, terutama ditopang kinerja Bea dan Cukai yang tumbuh sejalan dengan peningkatan ekspor,” jelasnya.
Di sisi lain, penerimaan pajak hingga akhir Desember 2025 tercatat sebesar Rp15.811,59 miliar, atau mengalami kontraksi 6,57% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Heni menyebutkan penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya Pajak Penghasilan (PPh) yang turun 15,92%, serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terkontraksi 8,44%.
“Kontraksi penerimaan pajak berasal dari PPh dan PPN. Namun, PBB dan pajak lainnya justru mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi secara tahunan,” katanya.
Dari sisi pengeluaran, belanja negara di Riau terealisasi Rp31.982,59 miliar, atau 95,43% dari pagu anggaran. Secara tahunan, belanja negara mengalami penurunan 2,89% dibandingkan tahun sebelumnya.
Heni mengungkapkan, belanja pemerintah pusat mengalami kontraksi cukup dalam, yakni 16,90%, seiring penurunan pagu anggaran dan kebijakan efisiensi belanja.
Sebaliknya, belanja Transfer ke Daerah justru tumbuh 2,93%, dengan realisasi mencapai Rp23.945,38 miliar. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik.
“Pertumbuhan belanja Transfer ke Daerah mencerminkan komitmen pemerintah menjaga dukungan fiskal ke daerah melalui DBH dan DAK Non Fisik,” ujarnya.
Selain kinerja fiskal, Heni juga memaparkan kondisi perdagangan luar negeri Riau. Pada November 2025, neraca perdagangan Riau kembali mencatatkan surplus sebesar USD1.526,91 juta.
Secara kumulatif hingga November 2025, surplus neraca perdagangan Riau mencapai USD17.709,53 juta, dengan kontribusi ekspor Riau terhadap total ekspor nasional sebesar 7,23%.***









