BERTUAHPOS — Industri otomotif nasional dalam dua tahun terakhir menghadapi tekanan pasar yang cukup signifikan.
Data penjualan kendaraan menunjukkan tren perlambatan sepanjang periode 2024 hingga 2025, dengan penurunan penjualan secara nasional mencapai sekitar 17 persen.
Tidak hanya penjualan wholesales, penjualan ritel bahkan tercatat mengalami penurunan lebih dalam hingga sekitar 24 persen.
Kepala Cabang Daihatsu Pekanbaru, Yohanes, mengatakan kondisi tersebut juga dirasakan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan Sumatera bagian utara (Sumbagut).
“Di wilayah Sumatera bagian utara, penurunan penjualan kendaraan sekitar 20 persen. Tapi untuk Riau penurunannya tidak sedalam angka nasional,” kata Yohanes.
Menurutnya, pasar otomotif di Riau masih relatif lebih stabil dibandingkan tren nasional. “Untuk Riau, penurunannya sekitar 13 persen, jadi masih lebih baik dibandingkan tren nasional,” ujarnya.
Dari sisi model kendaraan, penjualan Daihatsu hingga saat ini masih didominasi oleh dua tipe utama, yakni Sigra dan pikap. Kedua model tersebut menjadi tulang punggung penjualan Daihatsu secara nasional.
“Secara nasional, Sigra menyumbang sekitar 28 persen dari total penjualan Daihatsu, sementara pikap sekitar 25 persen,” jelas Yohanes.
Menariknya, kontribusi kedua model tersebut di pasar Riau bahkan lebih besar dibandingkan angka nasional.
“Di Riau sendiri, Sigra dan pickup masing-masing sekitar 30 persen kontribusinya terhadap penjualan Daihatsu,” katanya.
Memasuki awal tahun 2026, tekanan pasar otomotif masih terasa. Pada periode Januari hingga Februari 2026, penjualan Daihatsu tercatat kembali mengalami penurunan sekitar 9 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya.
Meski demikian, Yohanes melihat masih ada peluang pertumbuhan di beberapa segmen kendaraan tertentu. Salah satu yang menunjukkan peningkatan signifikan adalah segmen mini bus.
“Untuk segmen mini bus, kami melihat ada peningkatan sekitar 38 persen. Ini salah satunya dipengaruhi kebutuhan kendaraan operasional untuk program MBG yang jumlahnya cukup besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan kendaraan untuk mendukung program tersebut cukup besar. Permintaan diperkirakan berasal dari lebih dari 500 dapur MBG yang tersebar di berbagai wilayah.
“Setiap dapur rata-rata membutuhkan dua unit kendaraan operasional. Jadi potensi permintaannya cukup besar,” kata Yohanes.
Menurutnya, banyak pihak memilih kendaraan Daihatsu karena dinilai lebih efisien dan sudah teruji dari sisi operasional.
“Banyak yang memilih Daihatsu karena dianggap lebih efisien dan sudah teruji. Otomatis dengan adanya pembelian unit baru, aktivitas servis di bengkel juga ikut meningkat,” tambahnya.
Untuk mendorong penjualan di tengah kondisi pasar yang melambat, Daihatsu juga menawarkan berbagai skema pembiayaan yang dinilai cukup ringan bagi konsumen.
Beberapa simulasi kredit yang ditawarkan antara lain untuk model Terios dengan uang muka sekitar Rp17 juta dan cicilan mulai Rp4 jutaan per bulan.
Sementara untuk model Sigra, uang muka yang ditawarkan sekitar Rp10 juta dengan angsuran mulai Rp3 jutaan per bulan untuk tenor lima tahun.
Untuk model Ayla, uang muka berkisar Rp10 juta dengan cicilan sekitar Rp3,9 juta per bulan. Sedangkan model Xenia ditawarkan dengan uang muka sekitar Rp15 juta dengan angsuran mulai Rp4 jutaan.***









