BERTUAHPOS.COM — Pasar kendaraan listrik di Indonesia tengah mengalami pergeseran struktural yang signifikan seiring agresifnya produsen mobil asal China merebut pangsa pasar yang selama ini dikuasai merek-merek Jepang.
Pangsa pasar gabungan merek China melonjak menjadi sekitar 17 hingga 18 persen pada Januari-April 2026, dibandingkan sekitar 10 hingga 11 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Analis MNC Sekuritas Muhammad Rudy Setiawan, dalam riset yang terbit pada 26 Mei 2026 menilai pergeseran di pasar kendaraan listrik ini mulai terlihat jelas sepanjang empat bulan pertama 2026.
Penjualan otomotif nasional tumbuh 12,5 persen secara tahunan menjadi 289.787 unit pada periode Januari-April 2026, namun pertumbuhan itu dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil pasar kendaraan penumpang.
Lonjakan penjualan terutama ditopang kendaraan niaga yang tumbuh 38,9 persen secara tahunan setelah dua tahun mengalami perlambatan, sementara pertumbuhan mobil penumpang hanya naik 5,5 persen.
Di balik angka moderat tersebut, terjadi perubahan struktural pada pangsa pasar kendaraan penumpang yang dipicu meningkatnya penetrasi pasar kendaraan listrik berbasis baterai, plug-in hybrid, dan hybrid.
Produsen China seperti BYD, Chery atau Jaecoo, Geely atau Starray, hingga AION menjadi pemain paling agresif dalam menangkap momentum pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia. Sejumlah model baru seperti Jaecoo J5 BEV, BYD Atto 1, Geely EX2, dan Starray EM-i tercatat menyumbang sekitar 20 ribu unit penjualan hanya dalam satu kuartal.
“Kami menilai level ini mulai bersifat disruptif secara struktural, dengan pengaruh yang semakin besar terhadap penetapan harga, positioning produk, dan ketatnya persaingan di segmen pasar massal,” tulis Rudy dalam risetnya, sebagaimana dikutip Bertuahpos, Sabtu, 30 Mei 2026.
Dia menambahkan, tekanan tambahan datang dari melemahnya pangsa pasar Honda yang turun sekitar 4,6 poin persentase akibat kendala pasokan Brio Satya.
Celah yang ditinggalkan Honda langsung dimanfaatkan merek lain seperti Suzuki, Daihatsu, hingga produsen China untuk mengambil alih pangsa pasar, dan MNC Sekuritas memperkirakan sebagian konsumen yang berpindah merek berpotensi tidak kembali ke Honda meski pasokan mulai normal pada semester II-2026.
Persaingan di segmen pasar kendaraan listrik jenis hybrid SUV menengah juga semakin sengit dengan model seperti Yaris Cross HEV, XL7 HEV, Rocky HEV, dan Fronx HEV yang membuktikan tingginya minat konsumen pada kendaraan elektrifikasi di rentang harga Rp200 juta hingga Rp350 juta.
“Produsen Jepang masih mempertahankan posisi kuat di segmen hybrid, sementara pemain China lebih fokus mendorong penetrasi mobil listrik murni di bawah Rp300 juta,” katanya.
Salah satu ancaman terbesar bagi dominasi Jepang di pasar kendaraan listrik dinilai datang dari BYD M6 DM atau Dual Mode yang berpotensi mengganggu pasar MPV nasional yang selama ini dikuasai Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Mitsubishi Xpander, hingga Suzuki XL7 dan Ertiga.
BYD M6 DM diperkirakan dijual di kisaran Rp310 juta hingga Rp390 juta dengan klaim efisiensi bahan bakar mencapai 1:65 kilometer per liter, jauh melampaui Veloz Hybrid yang berada di kisaran 1:28 hingga 29 kilometer per liter.
Ekspansi jaringan distribusi BYD yang kini mendekati 80 showroom juga dinilai mempercepat adopsi pasar kendaraan listrik secara masif. Kondisi ini membuat risiko penurunan dominasi PT Astra International Tbk atau ASII semakin besar, dengan pangsa pasar grup diperkirakan dapat turun di bawah 50 persen dalam waktu dekat.









