BERTUAHPOS.COM — Potensi residential outflow atau kecenderungan pelaku ekonomi domestik memindahkan dana dan asetnya ke luar negeri mulai menjadi alarm serius yang perlu diwaspadai pemerintah dan Bank Indonesia.
Fenomena ini dinilai tidak kalah berbahaya dibanding keluarnya modal asing, karena menyentuh lapisan kepercayaan yang lebih dalam terhadap perekonomian nasional. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, Sabtu, 30 Mei 2026.
“Ketika investor domestik mulai memindahkan asetnya ke luar negeri, persoalannya bukan lagi sekadar dinamika pasar keuangan, tetapi juga menyangkut persepsi terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Karena itu, fenomena ini perlu menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Amin menjelaskan bahwa selama ini perhatian publik lebih banyak tersedot pada foreign capital outflow atau keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan Indonesia. Padahal, perubahan perilaku investor lokal juga layak dicermati karena bisa menjadi sinyal yang lebih dalam tentang tingkat kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
Ia menegaskan bahwa keluarnya modal asing umumnya dipengaruhi faktor eksternal seperti perubahan suku bunga global, ketegangan geopolitik, atau perlambatan ekonomi dunia. Namun situasinya jauh berbeda jika potensi residential outflow mulai terwujud, yakni ketika investor domestik secara sadar mengurangi eksposur investasi di Indonesia dan lebih memilih menempatkan dana di negara lain.
Bagi Amin, kondisi tersebut bisa menjadi indikator awal bahwa sebagian pelaku ekonomi mulai meragukan prospek ekonomi nasional ke depan. Peringatan itu muncul setelah sektor eksternal Indonesia menghadapi tekanan yang cukup besar pada awal tahun ini.
Data Bank Indonesia menunjukkan Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar US$9,1 miliar atau sekitar Rp161,98 triliun. Angka ini berbalik tajam dari triwulan IV 2025 yang masih mencatat surplus US$6,1 miliar atau sekitar Rp108,58 triliun.
Tekanan juga terlihat pada transaksi berjalan yang mencatat defisit US$4 miliar atau sekitar Rp71,2 triliun, setara 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Sementara transaksi modal dan finansial yang sebelumnya surplus juga ikut berbalik menjadi defisit pada periode yang sama.
Meski demikian, Amin mengingatkan bahwa angka-angka tersebut belum bisa langsung disimpulkan sebagai pelarian modal besar-besaran akibat potensi residential outflow yang sudah terjadi secara masif. Diperlukan kajian lebih mendalam untuk mengetahui apakah tekanan yang terjadi murni akibat faktor global atau sudah mulai dipengaruhi perubahan preferensi investasi masyarakat Indonesia.
Amin mendorong pemerintah dan otoritas moneter untuk memperkuat transparansi data serta memperdalam analisis terhadap struktur arus modal yang masuk maupun keluar dari Indonesia.
“Menjaga kepercayaan investor domestik sama pentingnya dengan menarik investasi asing. Perekonomian Indonesia akan jauh lebih kuat apabila pemilik modal nasional tetap optimistis terhadap prospek dalam negeri dan terus berinvestasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.









