BERTUAHPOS — Polisi mengungkap fakta baru dan mengkhawatirkan di balik aksi peledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta, pada 7 November 2025. Pelaku yang masih berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) diketahui tidak hanya bertindak karena dendam pribadi, tetapi juga terpapar ideologi ekstrem dari komunitas kekerasan di dunia maya.
Hasil penyelidikan menunjukkan pelaku sudah lama menyimpan perasaan tertekan dan terisolasi dari lingkungan sekitar. Kondisi psikologis itu mendorongnya mencari pelampiasan melalui internet, “hingga terpapar konten dan komunitas ekstrem,” kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana.
“Sejak awal 2025, yang bersangkutan mulai menunjukkan tanda-tanda merasa tertindas dan kesepian. Ia tidak tahu harus menyampaikan perasaannya kepada siapa. Dari situ muncul perasaan dendam dan pencarian identitas di dunia maya,” kata Mayndra dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa, 11 November 2025.
Densus 88 menemukan pelaku aktif menelusuri berbagai forum yang mengagungkan kekerasan, kematian, dan penyerangan. Ia bahkan bergabung dalam komunitas media sosial yang menganggap tindakan brutal sebagai bentuk keberanian. Dalam komunitas itu, pelaku kekerasan justru dipuji dan dianggap heroik. “Dari situlah inspirasi aksi ini muncul.”
Nama-Nama Pelaku Kekerasan Dunia di Senjata Mainan
Temuan paling mengejutkan adalah adanya enam nama pelaku penembakan massal dunia yang tertulis pada senjata mainan yang digunakan pelaku. Densus 88 menyebut, nama-nama tersebut menjadi simbol inspirasi dan menunjukkan keterpaparan pada ideologi kekerasan ekstrem global.
Dua di antaranya adalah Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat, pada 20 April 1999, yang menewaskan 13 orang. Keduanya dikenal menganut paham neo-Nazi, ideologi ekstrem kanan yang mengagungkan ras Arya dan terinspirasi dari Nazi Jerman.
Nama ketiga adalah Dylann Storm Roof, pelaku penembakan di Gereja Emanuel African Methodist Episcopal, Charleston, Carolina Selatan, pada 17 Juni 2015. Ia dikenal sebagai penganut ideologi supremasi kulit putih (white supremacy), yang meyakini keunggulan ras kulit putih atas ras lain.
Selanjutnya, tertera nama Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan brutal di Masjid Kota Quebec, Kanada, pada 29 Januari 2017 yang menewaskan enam orang. Alexandre juga diketahui menganut paham supremasi kulit putih.
Nama keempat adalah Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan di Politeknik Kerch, Krimea, pada 17 Oktober 2018, yang menewaskan 20 orang. Ia diketahui aktif dalam forum daring yang menyebarkan propaganda neo-Nazi.
Selain itu, terdapat nama Brenton Harrison Tarrant, pelaku penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019 yang menewaskan 51 jemaah. Aksi Tarrant disiarkan secara langsung dan disertai manifesto kebencian terhadap imigran dan umat Islam.
Nama terakhir yang tertulis adalah Natalie Lynn “Samantha” Rupnow, pelaku penembakan di Abundant Life Christian School, Wisconsin, Amerika Serikat, pada 16 Desember 2024. Ia dikenal sebagai simpatisan neo-Nazi dan pengagum pelaku penembakan massal sebelumnya.
Fenomena Paparan Ideologi Kekerasan Digital
Menurut Densus 88, fenomena ini memperlihatkan betapa luasnya paparan ideologi ekstrem dan kekerasan digital terhadap remaja, terutama melalui media sosial dan komunitas daring global.
“Fenomena seperti ini perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya dari sisi penegakan hukum, tetapi juga pendidikan, keluarga, dan lingkungan digital anak-anak kita,” tegas Mayndra.
Para pakar menilai, paparan terhadap konten radikal di internet dapat menimbulkan efek imitasi (copycat effect), di mana individu—khususnya remaja—meniru aksi kekerasan yang dianggap heroik atau simbol perlawanan tanpa memahami konteks ideologinya.
Ledakan dan Dampaknya di SMAN 72 Jakarta
Peristiwa peledakan di SMAN 72 Jakarta terjadi saat khotbah salat Jumat berlangsung di masjid sekolah. Ledakan itu menimbulkan kepanikan besar dan menyebabkan 96 orang menjadi korban, sebagian mengalami luka bakar dan luka akibat serpihan logam.
Polisi memastikan pelaku tidak terkait jaringan teror mana pun. Namun, kasus ini menjadi peringatan serius mengenai bahaya konten kekerasan di internet terhadap remaja yang mengalami tekanan psikologis dan kesulitan bersosialisasi.
“Ini pelajaran penting bagi kita semua. Anak muda yang merasa sendiri dan tidak mendapat dukungan bisa sangat rentan terpapar pengaruh negatif dunia maya,” tutup Mayndra.***









