BERTUAHPOS – Peneliti media dan politik, Buni Yani menilai mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi, menunjukkan tanda-tanda kepanikan dalam merespons isu ijazah palsu.
Dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, Buni Yani menyebut bahwa sikap Jokowi yang terus mengaitkan nama Kasmudjo sebagai dosen pembimbing skripsinya, padahal telah dibantah langsung oleh yang bersangkutan.
Hal ini menjadi salah satu bentuk tekanan psikologis yang kini dirasakan oleh Jokowi di tengah gempuran isu ijazah palsu.
Pernyataan Jokowi itu disampaikannya saat menghadiri reuni alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980 pada Sabtu, 26 Juli 2025. Kemudian menuai sorotan karena dinilai sebagai upaya memperkuat narasi pembelaan atas tudingan yang berkembang.
Selain itu, Buni Yani juga menyinggung pertemuan antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto yang terjadi di Solo usai menghadiri acara Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Dalam sebuah foto yang tersebar luas, tampak Jokowi, Iriana, dan Wapres Gibran Rakabuming Raka duduk berhadapan dengan Prabowo dan tiga tokoh lainnya dalam sebuah forum informal.
“Dari serangkaian peristiwa itu, terlihat Jokowi semakin tertekan menghadapi kasus ini. Jokowi menggunakan pengaruhnya di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada banyak institusi yang masih dia kuasai,” ujar Buni Yani.
Menurutnya, Jokowi tengah berupaya membentuk persepsi publik bahwa dirinya masih memiliki kendali di balik kekuasaan.
“Ia ingin meyakinkan masyarakat, khususnya basis pendukungnya, bahwa semua berjalan baik dan dia masih punya pengaruh kuat,” tambahnya.
Menurutnya, langkah-langkah Jokowi tersebut bukan soal substansi atau pembuktian kebenaran, melainkan lebih kepada pencitraan.
“Politik adalah soal kesan, bukan selalu soal kebenaran hakiki,” ujarnya.***









