BERTUAHPOS.COM — Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp17.830 per dolar AS, namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi tersebut tidak mengharuskan pemerintah menghitung ulang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN.
Pemerintah sebelumnya telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario ekonomi, termasuk perhitungan ketika harga minyak global mencapai US$100 per barel.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, Kamis, 28 Mei 2026, kepada awak media di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.
“Kita sudah hitung. Pada waktu simulasi minyak global 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan. Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Purbaya menilai kondisi pasar obligasi masih terkendali berkat langkah stabilisasi yang ditempuh pemerintah. Strategi pembelian kembali atau buyback obligasi dilakukan untuk menjaga imbal hasil atau yield tetap pada level yang terkendali.
“Walaupun rupiah melemahkan obligasi, yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di bendahara, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali,” katanya. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor asing terhadap aset domestik Indonesia.
Purbaya menegaskan bahwa stabilitas pasar obligasi menjadi faktor kunci dalam mempertahankan minat investor asing berinvestasi di Indonesia.
Selama pasar obligasi terkendali, kemampuan investor asing untuk masuk ke pasar domestik juga akan tetap terjaga — dan pemerintah sudah mulai melihat adanya aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Meski nilai tukar rupiah sedang tertekan, Purbaya juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah lanjutan yang lebih konkret. “Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan rupiah dengan signifikan,” ucapnya.
Purbaya menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup baik. Secara umum, pelemahan mata uang lazimnya terjadi ketika ada gangguan serius pada fundamental ekonomi suatu negara — namun kondisi itu dinilai belum terjadi di Indonesia.
Secara teknis, nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,20 persen hingga menyentuh Rp17.830 per dolar AS pada perdagangan terakhir. Angka tersebut jauh di atas asumsi makro nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 yang dipatok pada level Rp16.500 per dolar AS.









