BERTUAHPOS.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan agar penguatan sistem deteksi dini diperkuat guna mengantisipasi ancaman cuaca ekstrem yang berpotensi memicu kebakaran hutan. Penurunan curah hujan secara signifikan mulai membayangi sejumlah titik rawan di Indonesia seiring masuknya periode transisi iklim pada tahun ini, terutama di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral. Menurutnya, dinamika iklim global saat ini menunjukkan indeks ENSO dan IOD masih berada pada posisi netral sebelum memasuki fase krusial.
BMKG memprakirakan potensi perkembangan El Nino kategori lemah hingga moderat akan muncul pada semester kedua tahun 2026. “Dampaknya tetap perlu kita waspadai terutama karena beriringan dengan periode musim kemarau,” kata Teuku Faisal Fathani.
Faisal menjelaskan bahwa kemarau bukan berarti hilangnya hujan secara total, melainkan penurunan intensitas di bawah ambang batas klimatologis. Penurunan curah hujan di Kalimantan Barat, misalnya, terpantau mulai terjadi sejak Mei mendatang, khususnya pada wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa.
Puncak kekeringan diperkirakan melanda pada Agustus hingga September sebelum kelembapan udara kembali meningkat saat memasuki Oktober. “Kondisi inilah yang terjadi pada tahun 2015, 2019, 2023, serta diprediksi mulai tahun 2026 ini,” ujar Faisal.
Optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi langkah konkret untuk menjaga kondisi basah pada lahan gambut yang rentan terbakar. BMKG bersama BNPB terus memanfaatkan pertumbuhan awan yang masih tersedia guna melakukan penyemaian garam secara intensif di langit Kalimantan.
Hasil positif dari pelaksanaan OMC di beberapa daerah terbukti mampu menekan kemunculan titik panas secara signifikan melalui hujan buatan. Strategi ini menjadi tameng utama dalam meredam dampak buruk fenomena cuaca ekstrem yang mengancam kelestarian lingkungan hidup dan kesehatan warga.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago menginstruksikan seluruh aparat untuk siaga penuh di garda terdepan. TNI, Polri, dan pemerintah daerah wajib memastikan kesiapan alat utama sistem pertahanan bencana guna mewujudkan target nol kebakaran hutan.
Infrastruktur pendukung di Pelabuhan Dwikora dan Stasiun Meteorologi Supadio mendapatkan peninjauan khusus guna mengantisipasi gangguan akibat cuaca ekstrem. “Seluruh komponen bangsa harus meningkatkan mitigasi dan kerja sama agar Karhutla dapat ditekan hingga seminimal mungkin,” kata Djamari Chaniago.[]









