BERTUAHPOS — Polusi yang ditimbulkan dari pembakaran kayu dan gas pada kompor saat memasak, terbukti menimbulkan kerugian besar bagi kesehatan masyarakat dan perekonomian.
Temuan ini diungkap dalam studi peer-review terbaru di Selandia Baru yang menghitung dampak biaya perawatan rumah sakit, waktu kerja yang hilang, hingga kematian dini akibat paparan asap di dalam ruangan yang disebabkan oleh sisa pembakaran kompor di dapur rumah.
Penelitian tersebut mencatat bahwa dari 523.000 tungku pembakaran kayu di Selandia Baru, terdapat 446 kasus rawat inap karena gangguan jantung dan paru-paru serta 101 kematian dini setiap tahun.
Negara dengan populasi lebih dari 5 juta jiwa ini juga menghadapi dampak besar dari asap kompor gas, yang menyebabkan lebih dari 1.000 pasien dirawat, 208 kematian dini, dan 3.000 kasus baru asma anak tiap tahunnya.
Dr. Gareth Gretton dari Otoritas Efisiensi dan Konservasi Energi Selandia Baru menyebut, selama ini belum ada metode yang tepat untuk menghitung biaya polusi udara akibat peralatan berbahan bakar gas dan kayu.
“Kami sadar akan pentingnya kualitas udara dalam ruangan, tetapi baru kini bisa mengukurnya secara ekonomi,” ujarnya dilansir dari The Guardian.
Menurut hasil studi, api unggun menjadi sumber polusi paling berbahaya di rumah tangga. Paparan asap dari satu rumah dengan empat penghuni bisa menimbulkan kerugian tahunan mencapai NZ$53.400 atau sekitar Rp520 juta bagi sistem kesehatan dan ekonomi.
Bahkan, kompor modern pun tidak sepenuhnya aman. Para peneliti memperkirakan, setiap rumah tangga pengguna tungku modern menanggung biaya kesehatan dan ekonomi sekitar NZ$1.800 per tahun. Sementara itu, polusi udara akibat memasak dengan gas mencapai NZ$9.200 per rumah tangga setiap tahunnya.
Jayne Metcalfe dari lembaga konsultan Emission Impossible mengatakan, tantangan terbesar adalah memperkirakan seberapa besar kontribusi masing-masing peralatan terhadap kualitas udara. Namun ia menegaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan semua peralatan pembakaran memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan.
“Dampaknya nyata dan besar. Cara paling sederhana untuk menguranginya adalah beralih ke kompor listrik dan menghentikan pemasangan kompor gas baru,” ujarnya. “Langkah ini tidak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga bagi iklim.”
Selain mencemari udara di dalam rumah, pembakaran kayu juga memperburuk kualitas udara luar ruangan dan menambah beban biaya kesehatan masyarakat sekitar. Studi memperkirakan kerugian tambahan antara NZ$3.200 hingga NZ$26.800 per tungku kayu per tahun, tergantung jenis alat yang digunakan.
Sebagai perbandingan, di London, biaya kesehatan akibat polusi dari pembakar kayu hanya sekitar £800 per rumah tangga, atau setara dengan rata-rata Eropa sebesar €760. Perbedaan besar ini disebabkan oleh intensitas penggunaan tungku di Selandia Baru yang jauh lebih tinggi.
Data 2015 menunjukkan, hanya kurang dari 5% rumah di Selandia Baru memiliki sistem pemanas sentral. Sebagian besar rumah mengandalkan pemanas kayu atau portabel untuk satu ruangan saja. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Inggris, di mana 95% rumah telah menggunakan pemanas sentral dan jarang bergantung pada perapian berbahan bakar kayu atau batu bara.***









