BERTUAHPOS — Pemprov Riau secara sadar mengakui bahwa sektor kehutanan masih berkontribusi sangat besar terhadap emisi gas rumah kaca di Bumi Lancang Kuning—dengan posri mencapai 80% dari jumlah totalnya.
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, ingin lokakarya Green for Riau Initiative dapat merancang penyelarasan kebijakan, proses teknis, serta kolaborasi multipihak yang sejalan dengan arah pembangunan Provinsi Riau. Adapun kegiatan tersebut telah berlangsung di Pekanbaru, pada Kamis, 29 Januari 2026.
“Semua ide-ide strategis yang berkaitan dengan masalah perubahan iklim yang kita hadapi sekarang, seharusnya bisa lahir ide-ide strategis dari forum ini. Kita butuh solusi konkret. Green for Riau masih menjadi agenda penting sebagai kerangka pembangunan daerah yang lebih berkelanjutan,” tegasnya dalam forum itu.
Riau, sejauh ini dianggap berperan penting dalam berbagai agenda mitigasi perubahan iklim, khususnya di tingkat daerah—yang mencakup sektor berbasis lahan—yang selama ini menjadi tantangan utama.
SF Hariyanto bahkan mengakui bahwa sektor kehutanan di Riau masih menjadi kontributor terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) di Riau, dengan porsi mencapai lebih dari 80% dari total emisi daerah.
Walau begitu, Hariyanto yakin, Riau telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam kurun waktu lima tahun, provinsi ini dianggap berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca hingga di angka 13%.
Ini sebuah capaian penting untuk memperkuat peran Riau dalam mendukung agenda iklim nasional ke depan. Secara nasional, Provinsi Riau juga ditargetkan berkontribusi dalam pencapaian FOLU Net Sink 2030, serta penurunan intensitas emisi gas rumah kaca jangka panjang hingga mendekati 90% pada 2045.
Dalam konteks kebijakan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan Green for Riau yang diluncurkan pada Mei 2025 kini telah memasuki fase lanjutan yang lebih implementatif.
Program ini diposisikan sebagai platform untuk memperkuat kesiapan pelaksanaan REDD+ berbasis yurisdiksi di Provinsi Riau, dengan penekanan pada penguatan aksi mitigasi di sektor berbasis lahan.
“Fokusnya jelas, yakni mendorong aksi mitigasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat adat, agar pembangunan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan dapat berjalan seiring,” pungkas SF Hariyanto.***
Green for Riau









