BERTUAHPOS.COM — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan intervensi langit melalui modifikasi cuaca guna membasahi lahan gambut yang mulai mengering di Provinsi Riau. Tim teknis telah menuntaskan tujuh sortie penerbangan selama belasan jam untuk menabur 5.600 kilogram bahan semai pada kawasan rawan kebakaran.
Operasi strategis yang berlangsung hingga 22 April 2026 ini melibatkan kolaborasi lintas kementerian, BNPB, hingga personel TNI AU. Seluruh kendali penerbangan dan pemantauan radar berpusat di Posko Lanud Roesmin Nurjadin untuk memastikan akurasi penyemaian awan.
Langkah proaktif ini menyasar pengisian cadangan air pada embung dan kanal guna menjaga kelembapan tanah tetap stabil. “Berdasarkan data klimatologi, menyemai awan di masa transisi jauh lebih efektif,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menilai pemanfaatan awan pada masa peralihan musim jauh lebih efisien secara teknis. Jika intervensi tertunda hingga kemarau melanda, keberadaan awan potensial akan sulit ditemukan sehingga menurunkan tingkat keberhasilan hujan buatan.
Pemerintah Provinsi Riau sendiri telah menetapkan status siaga darurat sejak awal Februari hingga akhir November mendatang. “Memanfaatkan masa peralihan untuk pembasahan lahan gambut adalah pendekatan yang sangat strategis untuk mengendalikan karhutla secara permanen,” jelas Budi Harsoyo.
Sinergi instansi ini menjadi jaring pengaman lingkungan untuk menekan munculnya titik panas yang kerap mengganggu kualitas udara di Sumatera. Kementerian Kehutanan turut andil memastikan setiap tetesan hujan buatan mampu meresap ke dalam sekat kanal yang kering.
“Kementerian Kehutanan turut berkontribusi nyata dalam OMC selama sembilan hari ke depan untuk meningkatkan kelembaban lahan melalui pembasahan,” ungkap Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut, Thomas Nifinluri. Pihak TNI AU pun menjamin kelancaran logistik dan armada selama misi pembasahan daratan Riau tersebut berlangsung.
Implementasi teknologi modifikasi cuaca terbukti menjadi senjata andalan dalam memanipulasi siklus hidrologi lokal demi kepentingan mitigasi bencana. Upaya berkelanjutan ini merupakan bentuk nyata perlindungan ekosistem hutan dari ancaman api yang merugikan kesehatan masyarakat.
“Sinergi antar instansi menjadi kunci keberhasilan dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujar Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin, Andrie Setiawan.***









