BERTUAHPOS.COM – Sebuah studi komprehensif dari Universitas East Anglia menemukan bahwa kenaikan suhu global dapat memicu banjir bandang melalui peristiwa perubahan iklim mendadak yang ekstrem.
Dikutip dari The Guardian, Sabtu, 20 Juni 2026, penelitian yang menganalisis 698 daerah aliran sungai di Inggris ini mengungkapkan, pendekatan tradisional untuk perencanaan banjir dan kekeringan kini tidak lagi memadai menghadapi tantangan iklim modern.
Dr. Yi He, peneliti utama dari Universitas East Anglia, menjelaskan bahwa atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air sehingga mengintensifkan curah hujan ekstrem. “Seiring meningkatnya pemanasan global, pendekatan tradisional untuk perencanaan banjir dan kekeringan mungkin tidak lagi cukup,” ujar Dr. He.
Fenomena yang disebut hydroclimatic whiplash ini menciptakan transisi cepat antara hujan deras dan musim kering panjang tanpa peringatan. Ketika tanah yang kering dan keras menerima curah hujan deras, air tidak mampu meresap dan justru mengalir cepat di permukaan, menciptakan banjir lokal dengan risiko tinggi.
Perubahan mendadak dari kondisi basah ke kering juga menimbulkan risiko lain yang serius terhadap perencanaan penanganan kekeringan. Kondisi basah sebelumnya dapat menciptakan rasa aman palsu sebelum terjadi perubahan cepat menuju periode kering yang berkepanjangan.
Dalam simulasi dengan skenario pemanasan 2°C dan 4°C, frekuensi kejadian perubahan iklim mendadak diproyeksikan meningkat signifikan di seluruh wilayah Inggris. Beberapa daerah aliran sungai menunjukkan peningkatan dari rata-rata empat kejadian per 30 tahun menjadi sembilan kejadian dalam skenario pemanasan 4°C.
Peningkatan risiko terbesar untuk peristiwa perubahan cepat kering-ke-basah akan terjadi di Wales selatan, Irlandia Utara, serta Inggris utara dan barat. Wilayah-wilayah ini akan membutuhkan perencanaan adaptasi yang lebih agresif dan infrastruktur pertahanan banjir yang lebih tangguh.
Studi yang diterbitkan di Earth’s Future ini menekankan perlunya rencana adaptasi yang disesuaikan untuk setiap wilayah dengan fokus pada manajemen risiko banjir yang terintegrasi. Dr. He menyarankan bahwa perencanaan masa depan harus mempertimbangkan “serangkaian kejadian ekstrem, bukan hanya satu kejadian” untuk mengantisipasi volatilitas iklim yang semakin tinggi.
Para peneliti merekomendasikan peningkatan kapasitas penyimpanan air selama periode hujan sebagai bagian dari strategi adaptasi jangka panjang. Pendekatan komprehensif ini dianggap krusial untuk melindungi populasi dari risiko banjir dan kekeringan yang semakin tidak terduga akibat perubahan iklim.









