BERTUAHPOS.COM — Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) menjadi salah satu indikator iklim yang terus dipantau BMKG seiring penguatan musim kemarau di NTB. Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menyebut Indian Ocean Dipole saat ini berada pada fase negatif dengan indeks -0,926.
Kondisi Indian Ocean Dipole tersebut diperkirakan berubah menjadi fase positif mulai Juli 2026. Perubahan fase ini dapat memengaruhi pola curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk NTB.
Seiring meningkatnya potensi kekeringan, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih. “Warga diminta menghemat penggunaan air dan mengelola sumber daya air secara bijak selama musim kemarau berlangsung,” ujarnya.
Selain ancaman krisis air, BMKG juga meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Masyarakat dihimbau tidak membakar sampah maupun meninggalkan sumber api tanpa pengawasan di area terbuka.
Meski musim kemarau mulai menguat, BMKG masih memprakirakan sebagian wilayah NTB berpeluang mengalami hujan ringan pada periode 11–20 Juni 2026. “Peluang hujan dengan intensitas lebih dari 20 milimeter per dasarian diperkirakan berkisar 10 hingga 30%,” tambahnya.
Adapun wilayah yang masih berpotensi diguyur hujan ringan tersebut meliputi sebagian Kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, dan Sumbawa. Selain itu, sebagian wilayah Kabupaten Bima dan Dompu juga masuk dalam prakiraan tersebut.
Pergerakan fase Indian Ocean Dipole menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam memprediksi dampak kekeringan ke depan. BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim guna mengantisipasi dampak kekeringan yang berpotensi meningkat selama musim kemarau berlangsung.









