BERTUAHPOS — Emisi gas rumah kaca Amerika Serikat kembali meningkat pada 2025. emisi dari pembakaran bahan bakar fosil AS tercatat naik 2,4% dibandingkan tahun sebelumnya, berbalik dari tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini berdasarkan data dari studi terbaru Rhodium Group yang dirilis pada 14 Januari 2026, sebagaimana dilansir Bertuahpos dari The Guardian, Kamis, 15 Januari 2025.
Hasil dari studi tersebut menyatakan bahwa lonjakan emisi dipicu oleh kombinasi musim dingin yang lebih dingin, pertumbuhan pesat pusat data dan penambangan mata uang kripto, serta kenaikan harga gas alam.
Rhodium menegaskan, pembalikan kebijakan lingkungan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump belum menjadi faktor signifikan dalam kenaikan emisi 2025 karena kebijakan tersebut baru berlaku tahun ini.
Gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam tetap menjadi penyumbang utama pemanasan global.
Secara historis, emisi karbon AS turun sekitar 20% sepanjang 2005–2024, meski sempat mengalami kenaikan pada satu-dua tahun tertentu. Dalam periode tersebut, upaya transisi energi bersih membuat pertumbuhan ekonomi terpisah dari pertumbuhan emisi.
Namun, kondisi itu berubah pada 2025. Ben King, Direktur Grup Energi Rhodium, menyebut polusi karbon tahun lalu tumbuh lebih cepat daripada aktivitas ekonomi. Ia memperkirakan AS melepaskan 5,9 miliar ton CO₂ ekuivalen pada 2025, atau 139 juta ton lebih tinggi dibandingkan 2024.
King menjelaskan, musim dingin 2025 meningkatkan penggunaan pemanas bangunan yang banyak bergantung pada gas alam dan minyak bakar. Di saat yang sama, lonjakan permintaan listrik dari pusat data dan penambangan kripto memaksa lebih banyak pembangkit listrik beroperasi, termasuk pembangkit berbahan bakar batu bara yang paling intensif karbon.
Kenaikan harga gas alam turut mendorong penggunaan batu bara naik 13%, meski pemakaian batu bara secara struktural telah turun hampir dua pertiga sejak puncaknya pada 2007. “Ini bukan kebangkitan besar batu bara,” ujar King. “Namun peningkatan ini cukup menjelaskan mengapa emisi sektor listrik naik.”
Rhodium mencatat, daftar usulan pencabutan kebijakan lingkungan oleh pemerintahan Trump belum berdampak pada data 2025, tetapi efeknya bisa terlihat pada tahun-tahun mendatang. “Ini baru satu tahun data. Kita perlu melihat apakah tren ini berlanjut,” kata King.
Di tengah kenaikan emisi, kapasitas tenaga surya AS melonjak 34%, melampaui hidroelektrik. Energi tanpa emisi karbon kini menyuplai 42% kebutuhan listrik AS.
King menilai, meski subsidi energi surya dan angin berpotensi dihentikan, daya saing ekonomi energi terbarukan masih kuat. “Pemerintah tidak bisa dengan mudah mengubah fundamental ekonomi energi bersih,” ujarnya.
Sebelumnya, Rhodium memproyeksikan emisi AS pada 2035 turun 38%–56% dari level 2005. Kini, proyeksi penurunan tersebut diperkirakan menyusut sekitar sepertiga.
Dekan Lingkungan Universitas Michigan, Jonathan Overpeck, menilai kenaikan emisi 2025 sebagai sinyal buruk. Menurutnya, fokus pada bahan bakar fosil berisiko merugikan ekonomi dan kualitas udara AS, sementara dunia bergerak ke teknologi rendah karbon.
Aktivis iklim Bill McKibben menyebut langkah AS mundur dari transisi energi sebagai keputusan keliru. Sementara itu, Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) menyatakan belum mengetahui laporan Rhodium Group dan menegaskan tetap menjalankan misi melindungi kesehatan manusia.***
Emisi Karbon AS









