Hiperkolesterolemia, Tak Pernah ‘Pilih Kasih

Kamis, 16 Mei 2013 20:32

 

BERTUAHPOS, Jakarta – Tak ada kata pilih kasih untuk kolestrol. Kadar kolestrol yang tinggi (hiperkolesterolemia ) tak selamanya menyerang pemilik tubuh gemuk. Namun dalam beberapa kasus, orang kurus pun bisa terkena.
 
Memiliki tubuh yang kurus tidak serta merta membuat seseorang memiliki kadar kolesterol yang rendah dan berisiko lebih kecil mengidap penyakit pembuluh darah dan jantung (kardiovaskular).
 
Seseorang yang bertubuh kurus, apabila dalam keluarga ada riwayat hiperkolesterol, gangguan metabolik lain seperti diabetes melitus dan hipertensi, atau kelainan fungsi ginjal.
 
Memang, kadar kolesterol total ataupun jenisnya (seperti LDL dan trigliserida) yang terlalu tinggi akan berbahaya bagi kesehatan, khususnya jantung. Karena itu, kita selalu waswas dengan hasil laboratorium yang demikian.
 
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat fenomena yang menunjukkan seringnya angka kejadian kasus obesitas atau kegemukan dibarengi dengan peningkatan kolesterol.
 
Walaupun mekanisme hubungan ini belum terpapar jelas, upaya menurunkan bobot badan bagaimanapun berpengaruh nyata untuk menurunkan kadar kolesterol.
 
Dengan gaya hidup moderen yang didominasi makanan tidak sehat serta makin jarang olahraga, ancaman kolesterol jahat memang semakin menakutkan. Bukan cuma orang gemuk dan lanjut usia saja yang berisiko, melainkan sudah menjadi ancaman bagi kaum muda.
 
Sebenarnya, faktor yang dapat memicu meningkatnya kadar kolesterol dalam darah tidak hanya bobot atau konsumsi lemak jenuh, sebagaimana pemahaman yang beredar di masyarakat. Masih ada faktor lain yang tidak kalah populer dibandingkan dengan bobot tubuh dan lemak jenuh, yaitu umur, jenis kelamin, aktivitas fisik, juga keturunan atau bawaan.
 
“Faktor genetik kadang turut berperan, namun pengaruhnya tidak terlalu besar. Pengaruh faktor genetik juga hanya ditemukan pada familial hiperkolesterolemia yakni kelebihan kolesterol akibat kelainan bawaan yang sulit dicegah karena diwariskan dari orangtuanya,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM, Dr Ari Fahrial Syam, saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (10/5).
 
Menurut Dr Ari, kadar kolestrol tinggi yang dipicu oleh faktor keturunan menjadi sebuah hal sulit untuk di cegah. Walaupun angka kemungkinan kolesterol tinggi karena faktor keturunan tidak sebesar faktor lain, manifestasinya akan lebih buruk bila disertai hadirnya faktor risiko lain seperti kegemukan dan penyakit diabetes.
 
Dr Ari menjelaskan, dengan bertambahnya usia (gemuk atau kurus), pria maupun wanita mempunyai kecenderungan kolesterol yang meningkat. Wanita yang menginjak usia menopause (kadar LDL lebih tinggi) tentu perlu perhatian khusus.
 
“Untuk mencegahnya, sebaiknya lakukan aktivitas fisik secara teratur dibarengi kebiasaan hidup sehat seperti tidak merokok, tidak minum alkohol, dan mengonsumsi menu makanan yang seimbang,” jelasnya.
 
Banyak serang anak & remaja
 
Belakangan ini kecenderungan peningkatan kadar kolesterol tinggi juga menimpa anak-anak dan remaja. Kecenderungan ini dikhawatirkan akan merupakan cikal bakal gangguan kesehatan khususnya jantung.
 
Meski faktor keturunan bukan satu-satunya penyebab, pola makan maupun gaya hidup mereka tidak terlepas dari pola yang berlaku dalam keluarga.
 
Sebab itu, melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara dini pada anak-anak maupun remaja menjadi penting agar segera dapat dicegah. Apalagi, kalau orang tuanya penderita kolesterol tinggi atau punya riwayat penyakit jantung.
 
Bahwa si gemuk memiliki kadar kolesterol normal sebenarnya belum berarti ia sepenuhnya bebas masalah. Pasalnya, penelitian menyatakan, angka kejadian beberapa penyakit lain seperti penyakiti jantung, stroke, diabetes, kanker, radang sendi, peningkatan kadar asam urat dan batu empedu lebih sering didapati pada orang gemuk, walaupun tidak mutlak disertai kadar kolesterol tinggi.
 
Jadi, yang penting, hindari gangguan kesehatan akibat kadar kolesterol tinggi. Langkah awal yang mudah dan praktis yaitu menjaga bobot badan dalam batas normal dengan kombinasi menu sehat dan seimbang, disertai aktivitas fisik cukup dan teratur.
 
Lebih jauh, Dr Ari menambahkan walau sering dikatakan ‘silent killer dan tak bergejala namun sebenarnya kolesterol yang tinggi dalam tubuh memberikan sinyal-sinyal yang seharusnya tidak diabaikan.
 
Tengkuk, pundak berat & pegal misalnya, merupakan salah satu tanda jika seseorang sedang memiliki kadar kolestrol yang tingggi. Sebagian besar orang merasakan berat di kepala dan pegal-pegal sebagai gejala awal. Gejala ini muncul sebagai akibat kurangnya oksigen.
 
Tak hanya itu, mudah lelah dan sering sakit kepala juga bisa menjadi pertanda bahwa Anda sedang menderita hiperkolesterolemia.
 
Hal ini dikarenakan, kolesterol yang tinggi dalam darah memicu terjadinya penimbunan plak-plak di pembuluh darah arteri sehingga menyebabkan terjadinya artherosclerosis.
 
“Kondisi ini membuat arteri akan menyempit dan membuat aliran darah ke kepala dan otak berkurang, sehingga menyebabkan rasa sakit di kepala,” terang Dr Ari. (inilah.com)