BERTUAHPOS.COM — Seorang mahasiswa yang pernah ditangkap dan diseret ke pengadilan oleh pemerintah kolonial Belanda kini justru diabadikan namanya di kampus tempatnya dulu menuntut ilmu.
Erasmus University Rotterdam (EUR) di Belanda memajang salinan ijazah Mohammad Hatta—Wakil Presiden pertama Republik Indonesia—di aula gedung yang secara resmi dinamai “Hatta Building”, sebagai pengakuan atas dedikasi dan perjuangan tokoh tersebut.
Kisah ini bermula satu abad yang lalu. Hatta tiba di Belanda pada 1921 dan mendaftar ke Nederlandse Handelshogeschool—nama lama dari EUR saat ini. Ia tidak sekadar berstatus pelajar; kampus itu menjadi panggung pertama di mana keyakinan politiknya ditempa menjadi aksi nyata.
Di sana, Hatta bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, wadah bagi pelajar asal Hindia Belanda yang menuntut ilmu di negeri penjajah. Kepercayaan rekan-rekannya mengantarkannya menjadi ketua perhimpunan tersebut pada 1926, jabatan yang ia emban hingga 1930.
Di bawah arahannya, Perhimpunan Indonesia bergeser dari organisasi sosial menjadi kekuatan politik yang lantang menggaungkan asas non-kooperasi terhadap Belanda—menuntut kemerdekaan penuh bagi Indonesia, bukan sekadar otonomi terbatas.
Keberanian itu berbuah penangkapan. Pada 1927, pemerintah kolonial Belanda menahan Hatta dengan tuduhan aktivitas subversif.
Pada 1928, ia resmi duduk di kursi terdakwa di pengadilan Den Haag dengan dakwaan makar dan penghasutan terhadap Kerajaan Belanda—dakwaan yang bila terbukti bisa mengakhiri karier dan kebebasannya.
Namun di ruang sidang itu Hatta memilih berbicara, bukan membela diri dengan memohon. Ia menyampaikan nota pembelaan yang ia beri judul “Indonesie Vrij”—Indonesia Merdeka.
Teks itu bukan sekadar argumen hukum, melainkan manifesto yang mengurai secara sistematis mengapa sebuah bangsa terjajah memiliki hak yang sah untuk merdeka. Pidato pembelaan itu memukau forum internasional dan akhirnya membebaskan Hatta dari seluruh tuduhan.
Hatta menyelesaikan studinya di EUR dan kembali ke tanah air pada 1932, setelah 11 tahun menempa ilmu dan perjuangan di Belanda.
Tidak lama kemudian, ia berdiri bersama Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 1945, sebelum kemudian menjadi Wakil Presiden pertama negara yang ia perjuangkan sejak bangku kuliah.
EUR memilih untuk tidak membiarkan warisan itu terbenam dalam arsip sejarah. Kampus tersebut menghormati alumni istimewa itu dengan mendirikan Hatta Building—gedung asrama mahasiswa modern berkapasitas 372 kamar yang secara resmi dibuka pada 20 Februari 2017.
Di aula gedung itulah salinan ijazah Hatta dipajang secara permanen sebagai penanda jejak historis yang tak terhapuskan.
Ironisnya, penghormatan ini nyaris tak diketahui selama bertahun-tahun. Pihak keluarga Bung Hatta sendiri baru mendapat informasi soal keberadaan gedung ini pada 2014, jauh setelah gedung itu dirancang dan dinamai sesuai nama leluhur mereka.
Kabar tersebut sampai ke keluarga berkat Kwik Kian Gie, alumni EUR yang juga mantan pejabat Indonesia, yang menelusuri dan menyampaikan informasi itu kepada keluarga besar Hatta.
Kini, setiap mahasiswa yang menghuni kamar di Hatta Building—dari penjuru Belanda maupun dunia—berbagi ruang dengan nama seorang pejuang yang satu abad lalu pernah melawan sistem dari kota yang sama.
Sumber: Erasmus Magazine, Mari News









