BERTUAHPOS.COM — Inspirasi untuk berkarya dalam sebuah lukisan memang bisa datang dari mana saja. Seperti yang dilakukan oleh seniman berusia 9 tahun ini, Yuli Callista Patricia.
Dia merangkai setiap “bunga tidurnya” dalam seri lukisan yang saling terhubung. Lukisan itu dipajang dalam pergelaran Artists–Art Fair Pekanbaru, di ruang pameran Museum Sang Nila Utama, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru.
Lukisan itu diberi judul: Where my Dream Become my World. “Semua lukisan ini inspirasinya dari mimpi aku,” kata bocah yang akrab disapa Yuki itu saat berbincang dengan Bertuahpos pada 26 Juni 2026 lalu.
Sekilas, lukisan Yuki memang terlihat seperti karya lukis anak pada umumnya. Namun, setiap detil dari objek yang dia hadirnya punya makna tersendiri baginya.
Dalam satu lukisan yang diberi judul: Dunia Hewan, Yuki menggambarkan seekor marmut yang mengenakan topi dari kelopak bunga. “Marmut adalah hewan kesukaan ku,” katanya. “Topi yang dipakai, adalah topi yang aku kenakan di mimpi pertama.
Di lukisan yang lain, dia memperlihatkan seekor naga yang ramah, yang sedang bermain dengan beberapa ekor marmut penjaga. Lukisan ini menggambarkan adanya dunia yang terpisah dari dunia nyata namun dinding pembatasnya sangat tipis. Semua imajinasi ini dia tuangkan dalam karya seni lukis dari alam bawah sadarnya.
Perumus konsep Artists–Art Fair Pekanbaru, Fachrozi Amri, mengungkapkan bahwa karya seniman muda ini membuktikan kreativitas tidak mengenal usia.
“Mimpinya dikumpulkan dahulu, lalu dibikin sketsanya dan diwarnai pakai pensil warna,” ujarnya.
Yuki menuangkan beragam mimpi yang mewarnai malam-malamnya ke dalam 11 frame yang digarap sendiri. Mulai dari mimpi bertemu naga, mimpi indah, hingga mimpi buruk tersaji apik lewat goresan pensil warnanya.
Karya menarik lain yang mencuri perhatian adalah lukisan Candi Muara Takus buah tangan Suriaty dari Grup Suri. Lukisan ini bahkan telah lebih dulu berpindah tangan ke kolektor Arif Eka Saputra, anggota DPD RI, sebelum pameran resmi dibuka.
Fachrozi menjelaskan bahwa panitia memang membuka program presale bagi para kolektor. “Sudah ada transaksi, namun karya itu tetap akan dihadirkan secara simbolik meski sang kolektor berhalangan hadir untuk membuka acara,” jelasnya.
Artists–Art Fair Pekanbaru sendiri mengusung konsep yang menempatkan seniman sebagai pusat ekosistem. Para perupa diberi ruang untuk berhadapan langsung dengan publik di bilik pameran masing-masing.
“Formula ini yang kita coba bangun dan menjadi pembeda dalam metodologinya, di sini kita memperlakukan seniman sebagai pusat komoditi transaksional dalam ruang pameran,” ujar Fachrozi menegaskan filosofi di balik perhelatan ini.









