BERTUAHPOS– Bergaul bukan sekadar soal bersosialisasi atau mencari teman semata. Bagi Theo Derick, seorang konten kreator sekaligus entrepreneur muda, kemampuan bergaul yang tepat justru bisa menjadi sumber cuan alias penghasilan.
“Banyak yang anggap nongkrong itu buang waktu, padahal kalau tahu cara bangun relasi, itu bisa jadi pintu rezeki,” kata Theo. Ia mengungkapkan, dalam era digital seperti sekarang, kemampuan komunikasi dan memperluas jaringan sangat penting dalam menunjang karier maupun bisnis.
Theo menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang positif. Menurutnya, lingkungan yang suportif dan penuh ide bisa memicu kreativitas, sekaligus jadi tempat bertemunya peluang kerja sama. “Teman yang tepat bisa jadi partner bisnis, klien, bahkan investor,” ujar Theo.
Dalam praktiknya, Theo membagikan tiga kunci utama bergaul yang menghasilkan: punya kepribadian yang ramah, jadi pendengar yang baik, dan konsisten menunjukkan nilai diri. “Jangan cuma pamer gaya hidup. Tunjukkan skill, tunjukkan ide. Orang akan tertarik kerja sama kalau kita punya value,” jelasnya.
Ia mencontohkan pengalamannya sendiri saat merintis usaha. Awalnya hanya sering nongkrong bareng kreator lain, hingga akhirnya diajak kolaborasi. Dari satu proyek ke proyek lain, penghasilan pun mulai terbentuk dari jejaring yang dibangun secara organik.
Menurut Theo, media sosial juga bisa jadi sarana pergaulan yang menghasilkan. Namun ia mengingatkan, harus tetap otentik dan punya misi. “Jangan terlalu sibuk pamer, lebih baik bangun persona yang bisa dipercaya. Kalau kita dikenal sebagai orang yang konsisten dan jujur, pasti dicari,” katanya.
Pesan lainnya, jangan malu untuk belajar dari orang lain. Theo mengaku sering datang ke berbagai acara komunitas meskipun awalnya tidak kenal siapa pun. Justru dari situlah ia menemukan banyak mentor dan rekan bisnis. “Kadang cuan itu datang dari obrolan yang nggak sengaja,” tambahnya.
Theo berharap anak muda mulai sadar bahwa bergaul bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga bisa diarahkan untuk membangun masa depan. “Kalau bisa nongkrong sambil produktif, kenapa enggak?” tutupnya.***









