• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Selasa, Oktober 6, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Nafas Baru Swasembada Energi dari Blok Rokan

Suatu hari nanti, akan tiba masanya sumber daya alam fosil itu sirna. Begitulah sifat alamiahnya. Optimalisasi teknologi dan digitalisasi menjadi jadi kunci jika kita ingin swasembada energi. Ibarat traffic light — sebelum lampu merah menyala — gas terus.

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
7 Oktober 2025
Nafas Baru Swasembada Energi dari Blok Rokan

Proses penggalian Sumur Rangau 30 menggunakan rig yang ditenagai diesel dan listrik, hemat BBM hingga 70%, dan ramah emisi. Rig ini berkekuatan hingga 750 horsepower, sanggup ngebor hingga kedalaman 6.704 kaki | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

216
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

DERU mesin diesel menggema hampir sepanjang waktu. Tiang-tiang besi belasan meter, berdiri tegak memancang di sebuah tanah lapang — saling terangkai satu sama lain. Pernah melihat tower jaringan? Lebih kurang seperti itu bentuknya. Tapi di sini lebih berantakan.

Di bagian tower itu, sekitar lima meter dari permukaan tanah, ada bidang datar yang dihubungkan dengan tangga akses. Di tengahnya, mata rig diputar dengan besi panjang, menghujam jauh ke dalam bumi. Di sudut lain, sebuah kabin difungsikan sebagai ruang kontrol. Seorang perwira PHR tengah awas di sana. Namanya Roy Ivantri. Dia salah satu juru bor (driller) di sini.

Matanya jeli menatap monitor. Tangan kanannya menggenggam tuas kendali. Sebagai driller, dia bertanggung jawab untuk mengatur, pemeliharaan, serta mengawasi kru, dan memastikan proses pengeboran berjalan aman, efisien — sesuai prosedur.

“Semua sistem kontrolnya, ada di sini,” ujarnya sambil menunjuk beberapa tombol. Bahkan, dia sempat menjelaskan beberapa hal teknis. Setiap angka yang tampil di monitor, tuas dan tombol itu, punya fungsi masing-masing.

Tapi, seketika itu pula saya lupa dengan apa yang dia jelaskan. Masalahnya, hampir seluruh bagian dari bidang datar ini bergetar. Suara bising memaksa komunikasi harus dilakukan dengan sedikit berteriak. Kadang-kadang ada suara benturan besi, menghasilkan suara berbeda yang lebih keras. Bikin kaget dan konsentrasi pecah. Lutut goyang. Saya pun gamang.

Rabu petang itu, 24 September 2025, menjadi pengalaman pertama saya berdiri di sini. Itu pun hanya beberapa menit. Sulit membayangkan bagaimana Roy dan para perwira lainnya, bisa bertahan hampir sepanjang hari, menghabiskan waktu mereka di atas bidang datar itu, tanpa peduli hujan dan panas.

Lapangan migas Rangau.
Roy Ivantri, seorang driller di ruang kontrol sedang mengawasi proses penggalian Sumur Rangau 30 | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Masuk dalam Wilayah Kerja (WK) Rokan, aktivitas pengeboran ini dilakukan di Lapangan Rangau. Lokasinya dekat dengan Kota Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau. Apa yang dilakukan Roy bersama rekan-rekannya ini, adalah proses penggalian Sumur Rangau 30. Rig yang dipakai tergolong unik. Ditenagai diesel dan listrik. Hemat BBM hingga 70%, dan ramah emisi.

Berkekuatan hingga 750 tenaga kuda (horsepower), rig ini sanggup ngebor bumi hingga kedalaman 6.704 kaki atau sekitar dua kilometer di ke bawah tanah. Dari satu sumur ini, diperkirakan akan mengalir hingga 168 barrel oil per hari.

Lapangan Rangau hanya satu dari 80 lapangan migas di WK Rokan yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 Sumatera. Secara keseluruhan wilayah kerja ini memiliki luas 6.400 meter per segi. Ada tujuh kabupaten/kota di dalamnya; Pekanbaru, Kampar, Siak, Bengkalis, Kota Dumai, Rokan Hulu dan Rokan Hilir, dengan 35 stasiun pengumpul. Semuanya dihubungkan oleh pipa alir sepanjang 13.200 kilometer dan 500 kilometer jaringan shipping line.

Saat ini, seluruh kegiatan perusahaan didukung dengan 28 rig pemboran dan 25 rig WOWS (Workover Well Service) yang berfungsi untuk memperbaiki, memelihara dan meningkatkan produksi sumur yang sudah ada. Tujuannya tidak lain menyelesaikan program development dan base business perusahaan plat merah itu.

Per tahunnya, ada sekitar 500 sumur pengembangan dan eksplorasi bermunculan. Sekitar 150 subur baru terdapat di Lapangan Duri. Sisanya, 350 subur tersebar di lapangan lain, seperti; Lapangan Minas, Bangko, Balam, Petapahan, Pager, Kota Batak, termasuk di Rangau.

Hingga kini, PHR Regional 1 Sumatera mengoptimalkan 11.300 sumur migas untuk produksi di WK Rokan. Dari jumlah itu, rata-rata sekitar 152 ribu barel minyak per hari berhasil diangkat dari perut bumi, atau sekitar seperempat dari total lifting minyak nasional, dan 33 juta standar kaki kubik gas per harinya.

Adapun WK Rokan menyumbang 26% terhadap produksi hulu migas nasional dan menyalurkan 100% lifting untuk kebutuhan domestik. Sebanyak 44 ribu tenaga kerja terlibat di dalamnya. Hampir 74% di antaranya adalah putra daerah.

Sejak alih kelola (2021) hingga Juni 2025, WK Rokan telah berkontribusi sebesar Rp129,3 triliun terhadap penerimaan negara melalui pajak dan PNBP, serta telah menyalurkan amanah Participating Interest (PI) 10% senilai Rp4,4 triliun untuk Riau, sebagai tuan rumah.

Adapun fokus di tahun 2025; menjaga baseline produksi melalui program revitalisasi aset eksisting dan optimasi sumur, meningkatkan produksi lewat  investasi proyek pengembangan, hingga memaksimalkan daya saing biaya rendah (cost competitiveness) lewat digitalisasi dan otomatisasi.

Salah satu fakta tak terbantahkan, bahwa lumbung migas ini telah memegang peran penting dalam menopang produksi migas nasional, sejak dulu kala. Namun, perusahaan juga menyadari satu hal, bilamana upaya untuk mempertahankan produksi, ternyata tidak semulus rencana dalam kerangka program kerja semata.

Andai tanpa ada aktivitas pengeboran dan pembaharuan teknologi, PHR akan dihadapkan pada penyusutan produksi migas secara alamiah. Jumlahnya mencapai 11% per tahun.

“Itu kalau kita nggak ngapa-ngapain, ya,” kata General Manager Zona Rokan PHR, Andre Wijanarko. “Karena sumur migas kita sudah tua,” tegasnya, dalam pemaparan di Journey Room PHR, Rumbai, Rabu, 24 September 2025.

Perlu digarisbawahi, selama tiga tahun terakhir perusahaan hanya mampu menahan laju penurunan produksi. Oleh karenanya, upaya agresif harus dilakukan. Agar produksi migas tetap bisa tumbuh, paling tidak berada di grafik stabil.

Adapun beberapa fokus yang dilakukan, yakni; penerapan teknologi mutakhir, penambahan sumur baru, hingga menggandakan Migas Non-Konvensional (MNK) di tiga wilayah cadangan shale oil dan shale gas di North Aman, South Aman, dan Rangau.

Berbagai teknologi yang sudah diterapkan pun beragam, mulai dari Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan jumlah minyak yang dapat diekstraksi dari reservoir — terutama di sumur-sumur tua yang tak mungkin diproduksi secara efisien dengan metode konvensional.

Lalu, pengembangan low quality reservoir untuk pengelolaan reservoir migas dengan memiliki karakteristik kurang menguntungkan — seperti porositas dan permeabilitas rendah, untuk mengoptimalkan produksi hidrokarbon dengan sumur yang disesuaikan. Kemudian, multistage fracturing untuk meningkatkan produksi dari reservoir yang sulit, seperti di bebatuan ketat dan serpih.

Satu lagi teknologi yang akan diterapkan di Lapangan Minas, adalah metode Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR). Meski sudah pernah dilakukan sebelum alih kelola, saat ini para perwira PHR berhasil menemukan formula baru dan dipercaya akan lebih optimal untuk mengangkat minyak dari perut bumi.

Ikhtiar Menjaga Produksi Migas

Lapangan Minas itu hanya satu dari lapangan migas lain di Blok Rokan, yang sudah tua. Secara persentase, jumlah airnya lebih banyak daripada fluida (minyak, air dan gas) yang diekstraksi. Orang migas menyebutnya dengan istilah water cut. Perbandingannya hingga 99,5%. Lebih tepatnya, dari 100% fluida yang produksi, hanya 0,5% minyak. Sisanya, air. Makanya, produksi minyak semakin menurun.

Metode CEOR percaya efektif untuk meningkatkan produksi dalam waktu relatif cepat. “Cara ini diharapkan mampu mengambil sisa-sisa minyak yang masih terperangkap di dalam reservoir,” kata Senior Petroleum Engineer PHR Lapangan Minas, Medika Wilza.

Ada tiga jenis senyawa kimia yang dipakai dalam penerapannya. Medika menyebutnya dengan istilah ASP (Alkali, Surfaktan dan Polimer). Jadi, alkali itu berfungsi untuk mengubah sifat kebasahan reservoir agar minyak lebih mudah diangkat.

Fasilitas CEOR di Lapangan migas Minas.
Saat ini, PHR tengah memperbaharui fasilitas CEOR di Lapangan Migas. Teknologi ini dipercaya akan mampu meningkatkan produksi migas di Blok Rokan | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Sementara surfaktan itu layaknya sabun, sehingga minyak yang menempel di pori-pori batuan bisa lepas. Sedangkan polimer, tugasnya meningkatkan kekentalan (viskositas) air agar lebih efektif mendorong minyak keluar dari pori-pori reservoir.

Medika menjelaskan, analogi sederhananya seperti mencuci baju yang kena tumpahan minyak. Air saja tentu tak cukup. Jadi perlu sabun agar minyak menempel bisa lebih mudah lepas dan larut.

“Begitu juga di reservoir; minyak yang masih menempel pada pori-pori batuan bisa terangkat dengan bantuan alkali, surfaktan dan polimer,” terangnya.

Hal lain yang tak kalah membanggakan, bahwa formulasi ASP pada metode CEOR yang akan diterapkan di lapangan Minas ini, adalah buah hasil karya para perwira PHR. Jauh sebelum ini ditemukan, mereka sudah bolak-balik ke laboratorium, untuk uji coba.

Adapun komponen bahan kimianya, sebagian besar diproduksi di dalam negeri. “Untuk bahan surfaktan yang masih diimpor lewat kerja sama dengan PT Pertamina. Teknologi ini efektif diterapkan pada Desember 2025 nanti,” ujar Medika.

Jika dibandingkan dengan metode biasa (konvensional), harus diakui bahwa penerapan teknologi ini butuh biaya yang cukup tinggi. Selain butuh bahan kimia khusus, fasilitas pencampuran serta sistem injeksi pun harus tepat.

Namun, hasil studi menunjukkan potensi peningkatan faktor pemulihan atau recovery factor cukup memuaskan. Sekitar 13%. Pada percobaan skala kecil sebelumnya, bahkan bisa meningkat antara 17% hingga 22%.

Medika mengakui bahwa  metode CEOR sudah pernah dilakukan pada tahun 2013. Kala itu skalanya masih kecil. Hasilnya, terbukti efektif untuk menunjang pertumbuhan produksi. Sayangnya, teknolog ini harus dihentikan pada 2016 karena harga minyak dunia anjlok cukup dalam. “Proyek ini jadi tidak ekonomis,” katanya.

Meski nganggur lebih kurang 10 tahun, oleh PHR fasilitas ini tetap dirawat agar bisa dipakai di masa depan (preservasi). Saat ini, situasi dan kondisinya lebih mendukung melanjutkan proyek itu. Adapun fasilitas permukaan yang digunakan, yakni kombinasi antara fasilitas lama (diaktifkan kembali) dan didukung dengan fasilitas baru.

Setidaknya, ada dua komponen utama yang dibutuhkan; pertama, on-plot facilities, sebagai tempat pemisahan fluida hasil produksi (minyak, air, dan bahan kimia), pencampuran bahan kimia, serta utilitas pendukung; kedua, off-plot facilities, sebagai jaringan pipa menuju sumur injeksi dan sumur produksi.

Alur kerja CEOR di Lapangan Minas

Adapun sistem kerjanya, pada proyek awal di lapangan Minas (Area A), ada tiga sumur injektor dan sekitar 13 sumur produser. Bahan kimia tadi (ASP), dicampur di fasilitas on-plot, lalu dipompakan ke sumur injeksi untuk mendorong minyak keluar.

Fluida yang diproduksi dari sumur produser, dipisahkan di fasilitas permukaan, kemudian, minyaknya dialirkan ke jalur pipa produksi. Sedangkan air hasil pemisahan, kembali diinjeksikan ke reservoir bersama bahan kimia baru.

Dulu sempat beredar isu, bahwa air sumur bor yang dipakai warga di Minas, berminyak dan bau. Banyak pihak menuding, itu adalah dampak lingkungan dari metode CEOR. Namun, kata Medika Wilza, isu itu tak ada kaitannya dengan aktivitas produksi di lapangan Minas ini.

Jika ditelaah dari sisi dampak lingkungan, sumur minyak ini berada di kedalaman lebih kurang 2.000 meter. Sedangkan air yang biasa dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari berada di kedalaman dangkal, sekitar 100 hingga 150 meter.

Lagi pula, setiap sumur produksi dilapisi besi dan disemen. Bahkan, tak ada celah kontak dengan air tanah yang dipakai masyarakat. Terlebih, air yang keluar dari reservoir kualitasnya tidak layak konsumsi, karena mengandung mineral dan minyak.

Hal lain yang juga mempertegas mengapa CEOR menjadi proyek penting, karena dapat memperpanjang usia ekonomis Lapangan Minas sekitar delapan hingga 10 tahun ke depan. “Itu baru proyeksi untuk tahap awal,” ujar Medika.

Jika dilakukan pengembangan lebih luas, usianya bisa sampai 14 tahun, dan dari metode ini, ditargetkan angka produksi migas hingga 2.800 barel minyak per hari — untuk pola tiga sumur injektor di Area A.

Medika menjelaskan, Minas menjadi salah satu lapangan minyak paling besar di Asia Tenggara. Jika cadangan awalnya mencapai 4,6 miliar barel, sekarang masih sisa potensi hingga 50% yang bisa diangkat ke permukaan.

Itulah mengapa, penerapan CEOR di Minas bukan hanya penting, karena upaya ini akan mampu menjawab produksi migas nasional, khususnya untuk mendukung target 1 juta barel per hari pada 2030. “Apalagi teknologi CEOR ini. Tidak banyak negara yang berhasil mengimplementasikannya dengan skala ekonomis. Tapi, kita bisa,” tuturnya.

Namanya sumber daya alam, suatu saat dia akan habis. Sifat alamiahnya memang begitu, dan itu sebuah keniscayaan. Tak hanya berkutat dengan teknologi mutakhir, upaya eksplorasi tanpa henti menjadi kunci untuk mewujudkan swasembada energi. 

PHR Regional 1 Sumatera tentu tak hanya fokus pada CEOR dan seabrek metode lain. Kini, mereka juga sedang konsen pada Migas Non- Konvensional (MNK). Bahkan, digadang-gadangkan sebagai andalan Blok Rokan demi keseimbangan lifting di masa depan.

Tujuannya, tentu agar produksi migas tidak terus tergerus sifat alamiah di sumur tua (decline). Oleh sebab itu, migas non-konvensional perlu dipersiapkan sematang mungkin. “Jadi, NMK ini seperti next level-nya lah,” kata Ahli Geologi Eksplorasi MNK, Purwantoko Mahagyo.

Kendati demikian, upaya ini juga perlu dukungan teknologi agar bisa menjaga produksi di kisaran 150 hingga 160 ribu barel per hari. Artinya, untuk memastikan keberlanjutan produksi, maka MNK menjadi salah satu solusi.

MNK Tight Reservoir adalah hidrokarbon yang terbentuk dan terperangkap di batuan reservoir klastik. Batu ini memiliki karakter butir yang sangat halus (lempung). Para ahli geologi percaya, di sinilah dapur dari minyak bumi itu.

Karena tingkat porositasnya sangat kecil, hampir tidak celah bagi minyak untuk keluar. Ilustrasinya seperti benda berpori yang bisa menyerap air. Tapi ketika diperah, airnya justru tidak keluar, karena sudah terperangkap. “Jadi, proses mengambil minyak itu jadi lebih sulit,” jelasnya.

Cara mengangkat minta tidak bisa hanya dengan menancapkan sumur ke bawah bumi. Tapi, akan lebih ekonomis jika sumur yang dipakai adalah horizontal multi-stage fracturing dengan teknik stimulasi perekahan hidrolik.

Purwantoko menyontohkan, seperti makan di restoran. Tamu datang, tinggal disajikan. Tapi di non-konvensional, tamu harus masuk ke dapur untuk mencari bahan, meracik hingga dimasak sendiri. Jadi prosesnya lebih rumit, lebih detail, dan lebih mahal.

Oleh sebab itu, diperlukan teknologi fracturing. Cara kerjanya, batu itu direkahkan. Pada retakan diisi pasir dan air, agar rekahan tetap terbuka. Dengan begitu, minyak yang terperangkap bisa bebas mengalir lebih banyak.

MNK memang bukan barang baru di industri migas. Amerika Serikat (AS) boleh dikatakan sebagai pelopor yang menggarap proyek ini, lewat dukungan fasilitas dan teknologi mumpuni.

Apa yang dialami PHR di Blok Rokan hari ini, sudah dirasakan oleh Negara Paman Sam itu, sejak 25 tahun yang lalu. Sekitar tahun 2000, industri migas di sana mengalami penurunan produksi migas secara alamiah. Berkat MNK, produksinya meningkat hingga 4,5 juta barel per hari pada tahun 2018.

Secara teknologi, harus diakui bahwa AS memang lebih canggih. Bisa ngebor hingga kedalaman 10 ribu kaki. “Kita mungkin belum sampai ke tahap itu, karena tantangannya besar dan biayanya mahal,” ujar Purwantoko.

Karena dianggap menjanjikan, PT Pertamina (Persero) sedang membangun dan memperkuat ekosistem pengembangan MNK. Penyesuaian ini agar teknologi yang diterapkan bisa lebih optimal, tanpa menghamburkan banyak uang. Targetnya, proyek MNK di WK Rokan akan menjadi contoh bagi seluruh lapangan migas di Tanah Air.

Adapun pada tahap eksplorasi, yang dinilai bukan hanya produksi, tetapi indikasi ada-tidaknya sumber minyak. Indikatornya; porositas, permeabilitas, saturasi minyak, ketebalan reservoir, kedalaman, tekanan, hingga temperatur. “Dari data itu, barulah bisa dipetakan potensi cadangan. Tapi angka estimasinya bisa saja berubah seiring bertambahnya data, untuk memperkuat hasil studi awal,” ujarnya.

Di Blok Rokan, North Aman, South Aman, dan Rangau menjadi area potensial untuk pengembangan NMK — seperti dua sumur sebelumnya di North Aman yang sudah dilakukan pengeboran. Hasil dari kegiatan eksplorasi itu mengindikasikan ada potensi migas yang sangat menjanjikan. Angkanya di kisaran 700 juta barel, berdasarkan studi sebelumnya.

Adapun timeline secara umum, tahun 2022 hingga 2023 merupakan tahapan persiapan eksplorasi. Lalu, dimulailah pengeboran dua sumur di tahun 2023 hingga 2024 lalu.

Di 2025 hingga 2028, adalah tahap pengeboran appraisal, meliputi uji aliran produksi, termasuk sumur horizontal dan multi-stage fracturing-nya, lalu tahap demonstrasi dan development untuk memperbanyak sumur, dan kebutuhan lainnya. Baru lah bisa running di 2030 mendatang.

Ahli Geologi Eksplorasi MNK, Purwantoko Mahagyo.
Ahli Geologi Eksplorasi MNK, Purwantoko Mahagyo | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Meski sudah terjadwal, untuk mewujudkan sumur migas non-konvensional bukan perkara mudah. Tantangannya banyak. Salah satunya biaya tinggi, bahkan lebih mahal dari si pendahulunya. Ini wajar, karena kondisi geologi di Indonesia jauh lebih rumit dibanding AS. Secara temperatur reservoir saja, bisa mencapai 170 hingga 180 derajat celsius, dengan kompleksitas lebih tinggi. Sementara di AS, biaya per sumur bisa ditekan hingga sekitar US$8 juta. “Kalau di kita, masih jauh di atas itu,” ujar Purwantoko.

CEOR dan MNK masih menjadi ikhtiar. Tapi kabar keberhasilan teknologi new waterflood di proyek secondary recovery, mempertegas keyakinan bahwa upaya mempertahankan produksi migas di WK Rokan.

Waterflood itu sama dengan teknologi injeksi air, yang diterapkan di lapangan Pager, Rokan Hilir, Riau, dan sudah dimulai sejak tahun 2023 lalu. Lewat teknologi ini, perusahaan berhasil menambah 1.180 barel minyak per hari.

“Sekali lagi, capaian ini menjadi tonggak penting bagi PHR karena merupakan proyek waterflood pertama yang berhasil diimplementasikan sejak alih kelola WK Rokan,” kata Andre Wijanarko.

Keberhasilan new waterflood terletak pada optimalisasi penggunaan digitalisasi data dalam mencapai efisiensi dan akurasi tinggi. Cara itu memungkinkan bari PHR menganalisis reservoir secara komprehensif, mengidentifikasi injeksi air optimal, dan menganalisa fasilitas permukaan.

Pendekatan cerdas ini secara signifikan memangkas waktu evaluasi lapangan kandidat waterflood dibandingkan metode konvensional. Keunggulannya dimanfaatkan para insinyur PHR untuk mengembangkan metode Secondary Recovery Waterflood.

Berbekal analisis data yang akurat, para perwira itu berinovasi dengan mengonversikan sumur idle menjadi sumur injeksi air (CTI), menggunakan air terproduksi untuk menjaga tekanan reservoir dan meningkatkan perolehan minyak di lapangan tua.

Keberhasilan di Lapangan Pager menjadi pondasi kuat bagi PHR untuk memperluas implementasi secondary recovery ke lapangan-lapangan Blok Rokan lainnya. Adapun portofolio eksekusi proyek new waterflood di Blok Rokan secara kumulatif melalui empat lapangan lain dengan karakteristik reservoir yang sama — yang diproyeksikan akan mencapai total produksi hingga 2.500 barel minyak per hari, pada akhir tahun 2025.

Andre menegaskan, hal ini merupakan komitmen PHR dalam menerapkan digital initiative dengan teknologi analitik, juga diterapkan secara luas di seluruh WK Rokan untuk meningkatkan efisiensi monitoring, mempercepat pengambilan keputusan, dan meminimalkan risiko teknis.

“Kami berkomitmen mengelola aset migas secara bertanggung jawab. Kami terus mendorong mendorong inovasi dan optimalisasi digitalisasi. Capaian ini membuat kami semakin optimis terhadap target swasembada energi nasional ke depan,” katanya.

Target Ambisius vs Tantangan Serius

Target ambisius produksi migas dari WK Rokan, tentu tak selalu berjalan mulus. Harus diakui ada sejumlah tantangan teknis dan non teknis yang menjadi hambatan serius, sehingga perlu “dikeroyok” oleh berbagai pemangku kepentingan, agar solusinya tak mentok di jalan buntu.

Andre Wijanarko mengatakan, secara prinsip aktivitas utama perusahaan hulu migas itu, lebih kepada pengeboran masif sebagai bentuk dari komitmen menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan. Tapi, kegiatan itu tentu tidak instan, sebab energi fosil tetap punya keterbatasan.

Misal, debit sumur migas di WK Rokan yang mengalami penurunan alami. “Bayangkan saja bagaimana dampaknya terhadap produksi nasional,” ujar GM Zona Rokan PHR itu.

Selain faktor geologis, perusahaan juga dihadapkan dengan berbagai berkendala non-teknis yang cukup kompleks. Sebut saja soal sengketa lahan. Bahkan persoalan ini seringkali menjadi hambatan utama di lapangan. Proses akuisisi lahan untuk pengeboran kerap memakan waktu lama, karena status kepemilikannya bisa melibatkan banyak pihak.

Durasinya bisa memakan waktu lima hingga enam tahun. Padahal, proyek seharusnya bisa rampung dalam 70 hingga 90 hari. Akibatnya, beberapa kegiatan pengeboran tertunda jauh dari tenggat waktu yang ditargetkan.

General Manager Zona Rokan PHR, Andre Wijanarko
General Manager Zona Rokan PHR, Andre Wijanarko | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Adapun kendala lainnya adalah soal perizinan. Di PHR, ada banyak titik pengeboran beririsan langsung dengan kawasan yang dikelola oleh pemerintah maupun perkebunan besar. Sehingga dibutuhkan koordinasi lintas instansi intensif, dan sering kali memerlukan waktu lama. “Masyarakat harus tahu, bahwa prosesnya sangat panjang dan perlu kerja keras dari semua pihak,” ujarnya.

Meski begitu, PHR Regional 1 Sumatera tetap berkomitmen untuk mendukung ketahanan energi nasional melalui strategi pengeboran agresif, dan WK Rokan akan menjadi salah satu penyumbang utama produksi migas nasional sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat Riau.

Berbagai tantangan itu juga diakui oleh Gubernur Riau, Abdul Wahid. Salah satu langkah yang kini sudah diambil pemerintah daerah, yakni membentuk Satgas khusus untuk menunjang percepatan produksi migas di Riau, khususnya di WK Rokan.

Wahid juga mengakui bahwa selama ini, proses perizinan pinjam pakai lahan untuk operasi migas bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun. “Kami harap hadirnya Satgas khusus ini menjadi salah satu solusi, agar semua proses itu bisa lebih cepat dan efisien,” katanya saat ditemui di Gedung Daerah Provinsi Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru, akhir September lalu.

Adapun Satgas ini, kata dia, akan terus bertugas selama ada kegiatan operasional migas di Bumi Lancang Kuning. Dalam pelaksanaanya, Satgas bisa menggandeng TNI-Polri, kejaksaan, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat. Wahid menegaskan, upaya ini sangat diperlukan sebab Pemprov juga percaya masih banyak cadangan migas di Riau untuk menunjang kebutuhan energi nasional. “Kami optimis, cadangan minyak di Blok Rokan itu masih sangat besar,” ujarnya.

“Tabungan Energi” untuk Anak-Cucu

Lantas, naif rasanya jika waterflood, CEOR dan MNK, hanya dilihat dari sudut pandang bagaimana cara migas diproduksi. Bagaimana minyak bisa dinikmati masyarakat, itu cerita lain. Setuju atau tidak, sektor hulu telah menjadi pondasi paling dasar dalam mempertahankan produksi migas. 

Setiap tetes minyak yang melambangkan kesejahteraan masyarakat, juga ada tetesan peluh para perwira di sana, ada tenaga dan pengorbanan dari setiap detik sumur itu memompa, ada gagasan dengan analisis mendalam dari setiap teknologi yang diterapkan. Merekalah kru di balik layar yang sesungguhnya, dalam konteks visi swasembada energi yang menjadi mimpi bangsa saat ini.

Dari sudut pandang lain, produksi migas di lumbung Blok Rokan, juga tidak sekadar bicara jumlah lifting. Tapi, ada harapan agar upaya ini menjadi nafas baru dalam konteks swasembada energi.

Harapan itu juga terucap dari Andre Wijanarko. Kunci dari keberhasilan ini ada pada kolaborasi kuat dari banyak pihak yang diharapkan selalu terjalin harmonis. Setidaknya pekerjaan rumah ini bisa sama-sama diselesaikan, meski itu bukan perkara mudah.

Jika waterflood, CEOR dan berbagai teknologi lain menjadi harapan baru untuk kembali mengangkat produksi, maka MNK menjadi tumpuan “tabungan energi”, agar anak cucu tetap bisa menikmatinya di masa depan.***

Tags: bisnisenergiLaporan Khusus
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Proses produksi oleh-oleh khas Riau keripik kulit ikan patin Melayu Crackers (Malakers) | Foto: Bertuahpos / Melba.
Berita Pilihan

Kisah di Balik Kriuknya Melayu Crackers, Kulit Ikan Patin Berstranformasi Menjadi Oleh oleh Premium

...

Read moreDetails
Garuda Indonesia-Pelita Air Masih Bahas Rencana Konsolidasi

Garuda Indonesia-Pelita Air Masih Bahas Rencana Konsolidasi

Proyek Mangkrak PLTU Koto Ringin di Siak Diusulkan Jadi Pembangkit Hijau

Proyek Mangkrak PLTU Koto Ringin di Siak Diusulkan Jadi Pembangkit Hijau

Danantara Gabung KSSK untuk Perkuat Investasi, Fokus ke Pertumbuhan Ekonomi

Danantara Gabung KSSK untuk Perkuat Investasi, Fokus ke Pertumbuhan Ekonomi

Pemprov Riau Dorong ASN Kelola Usaha Budidaya Ayam Petelur Skala Kecil

Pemprov Riau Dorong ASN Kelola Usaha Budidaya Ayam Petelur Skala Kecil

Laba Hutama Karya Lampaui Target, Kontrak Baru Naik 22 Persen

Laba Hutama Karya Lampaui Target, Kontrak Baru Naik 22 Persen

Next Post
Local Media Summit 2025: Menjelajahi Masa Depan Media Berkelanjutan di Indonesia

Local Media Summit 2025: Menjelajahi Masa Depan Media Berkelanjutan di Indonesia

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.