• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 8, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Menjaga Aroma Liberika Meranti, Kopi Gambut yang Diminati Pasar Luar Negeri

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
28 Mei 2026
Menjaga Aroma Liberika Meranti, Kopi Gambut yang Diminati Pasar Luar Negeri

Kopi liberika | Foto: Teruku Boyhaqie.

206
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Masih segar diingatan Nyoto bagaimana awal mula ia menawarkan bubuk kopi di salah satu hotel di Pekanbaru, sekitar tahun 2013 lalu. “Kopi ini dari Selatpanjang,” katanya jujur. Namun, wajah orang-orang itu tampak bingung.

Nyoto paham dengan ekpresi seperti ini. Di kepala mereka, bagaimana mungkin ada kopi yang bisa tumbuh di daerah pesisir. Dataran rendah dan tanah gambut bukan tempat yang ideal untuk “si hitam”.

“Banyak yang tidak yakin kalau di Kepulauan Meranti ada kebun kopi,” ujar petani kopi liberika Meranti itu bercerita, saat ia menjadi pembicara dalam acara Media Gathering, di Kota Dumai, Rabu malam, 20 Mei 2026.

Bagi Nyoto, keraguan seperti itu hal yang wajar. Seluruh dunia pun tahu, bahwa kopi pada umumnya merupakan jenis tanaman dataran tinggi. Arabika misalnya, tumbuh subur di lahan dengan ketinggian 1.000-2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang butuh hawa sejuk berbalut kebut pagi. Termasuk robusta di ketinggian 400-900 mdpl.

Namun, tidak untuk jenis kopi yang ditawarkan Nyoto; kopi liberika Meranti. Tanaman yang masuk dalam Familie Rubiaceae itu, tergolong unik. Habitat idealnya justru berlawanan dengan arabika dan robusta. Hawa sejuk membuat tanaman ini tidak bisa berkembang dengan baik.

Kopi liberika Meranti adalah jenis kopi yang tumbuh subur di dataran rendah. Tanaman  dengan nama latin Coffea liberica L itu, bahkan bisa berkembang di lahan dengan ketinggian 1 mdpl, dan butuh hawa panas pesisir. “Terutama di lapisan tanah gembur dan banyak humus,” menurut Nafarain, dalam jurnal vegetalika berjudul: Eksplorasi dan Identifikasi Populasi Kopi Liberika, terbit tahun 2022. Itulah mengapa kopi jenis ini berkembang pesat di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Secara fisik, Kopi liberika Meranti punya ukuran biji yang lebih besar ketimbang arabika dan robusta. Kulit luar yang lebih tebal, membuatnya tahan dari serangan hama seperti kumbang. Selain itu, kadar airnya tinggi dan kandungan kafeinnya lebih rendah dari jenis kopi pada umumnya. Secara karakteristik, liberika Meranti sama dengan liberika Teluk Pandan dan Muara Badak di Kalimantan Timur—yang juga tumbuh subur di dataran rendah bergambut. Tapi, ciri khas rasanya tetap berbeda.

Hingga kini, Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, masih menjadi pusat produksi kopi liberika Meranti. Berjarak sekitar 270 kilometer dari Kota Pekanbaru, butuh waktu sekitar 9-10 jam ke Selatpanjang dengan kombinasi jalur darat dan laut. Kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut, nyeberang ke Pulau Rangsang dan dilanjutkan dengan kendaraan darat untuk tiba ke Desa Kedabu Rapat. Jarak tempunya sekitar 1,5 jam. Di sinilah kopi liberika Meranti menemukan habitatnya.

Jika menelusuri lebih dalam data laporan: Statistik Kopi Indonesia 2023 (diterbitkan oleh BPS tahun 2024), secara umum hanya memuat total area poduksi kopi di Riau seluas 4.329 hektare, dengan total produksi mencapai 1.795 ton. Sejauh ini, belum ada angka pasti yang menyebutkan secara spesifik luasan produksi Kopi liberika Meranti. “Tapi, menurut BPS tahun 2015, luas area produksinya mencapai 1.170 hektar,” ujar Nyoto.

Luas area tanam diyakini semakin bertambah, seiring dengan gencarnya upaya pemerintah daerah mendorong masyarakat memanfaatkan lahan nganggur untuk ditanami kopi liberika. “Setelah 2015 itu, Pemda banyak memberikan bibit gratis kepada masyarakat,” kata pria paruh baya itu.

Lagi pula, komoditi ini sangat disukai oleh petani di Kepulauan Meranti karena tahan terhadap hama wereng—penyakit yang kerap merontokkan panen arabika dan robusta. Bahkan, di lahan gambut yang sempit sekalipun, liberika tetap bisa tumbuh dan berbuah dengan kulitas bagus.

Kata Nyoto, kopi jenis ini umurnya panjang dan sangat produktif jika dirawat dengan benar. Rata-rata per pohon, bisa menghasilkan 70 kilogram buah untuk total sekali musim panen.

Peluang Perluasan Ekspor dan Jadi Pemain Baru di Pasar Domestik

Kopi liberika Meranti punya peluang untuk menjadi pemain besar di pasar ekspor. Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Filipina, sejak dulu sudah menghidangkan kopi liberika Meranti di atas meja kedai kopi mereka — khususnya untuk para penikmat kopi tiam.

Abdurrahman Faturahmi, Founder ErberCoffee, menjadi bagian dari generasi baru yang melihat liberika Meranti bukan sebatas pada komoditas kopi curah semata. “Ini produk premium dari Riau yang layak untuk diperhitungkan,” ujarnya, saat pemaparan potensi ekonomi kopi liberika Meranti di acara yang sama Rabu malam, 20 Mei 2026.

Ia pernah punya pengalaman dengan salah seorang pengepul yang mencoba mengoplos liberika Meranti dengan kopi lain, untuk dilepas ke Malaysia. Hasilmnya, kopi oplosan itu langsung ditolak buyer. Hal ini membuktikan bahwa keaslian liberika Meranti sangat otentik. Dengan kata lain, komoditi ini tidak mudah untuk dipalsukan.

Seiring berjalannya waktu, produktivitas hasil panen kopi liberika Meranti juga menunjukkan garfik yang bagus. Abdurrahman menyebut, per tahun 2025, rata-rata produksinya mencapai 3,9-4,2 ribu ton. Angka itu sekaligus mempertegas, Riau sebagai provinsi teratas produsen kopi liberika di Tanah Air. “Kami yakin prospeknya akan sangat cerah,” ujarnya. Kendati angkanya menanjak, jumlah produksi saat ini masih belum mampu memenuhi permintaan, khususnya di pasar Malaysia.

Selain pasar ekspor, kopi liberika berpeluang menjadi pemain baru di pasar kopi domestik. Lajunya pemanasan global menjadi tantangan berat bagi arabika dan robusta untuk bertahan sebagai pemain kopi terbesar — khususnya di Indonesia.

Menurut laporan Forest Digist, 70% dari kopi dunia memang dikuasai robusta, dan 30%-nya arabika. Sedangkan excelsa dan liberika, masih belum mendapat tempat. Masalahnya, ancaman pemasan global menjadi persoalan serius bagi komuditi ini — terutama arabika dan robusta.

Studi de Sousa pada 2019, sudah memprediksi masa-masa sulit seperti ini akan terjadi. Diperkirakan 60% lahan yang ditanami kopi, menjadi tidak layak tanam pada tahun 2050, jika global warming tidak bisa direm.

Tanda-tanda itu sudah nampak. Syakir dan Surmaini dalam jurnalnya menjelaskan, bahwa kekeringan ekstrem akibat El Nino menjadi penyebab utama menurunnya produksi kopi di Indonesia hingga 10%. Panas ekstrem dapat memicu hama yang membuat tanaman kopi menjadi lebih rentan — khususnya jenis arabika. Sebuah penelitian belum lama ini (Kath dkk, 2020) menemukan kopi robusta — yang sebelumnya lebih tahan hama — juga terganggu pertumbuhannya akibat iklim yang berubah.

Kondisi ini membuka peluang bagi kopi liberika untuk masuka ke pasar yang lebih terbuka seperti yang dimaksud Abdurrahman. Dua jenis kopi yang menguasai pasar dunia itu, kian terancam oleh kenaikan suhu global. “Lahan yang cocok untuk mereka semakin menyusut,” katanya.

“Sementara liberika — dengan toleransinya terhadap cuaca panas, keasaman tanah gambut, dan dataran rendah — justru semakin relevan dan mampu bersaing secara tebuka, baik dipasar domestik apalagi di pasar internasional,” tambahnya.

Bisakah Liberika Meranti Jadi Jembatan Kesejahteraan Petani?

Di balik segudang potensi peluang yang terbuka, pengembangan kopi liberika Meranti bukan berarti mulus tanpa kendala, terutama dari sisi lingkungan, kebijakan hingga rantai bisnis yang belum sepenuhnya memihak ke petani.

Dari sisi lingkungan, kondisi cuaca di Riau yang tak menentu beberapa tahun tekahir, membuat masa panen menjadi sulit diprediksi. “Kadang bisa maju, kadang bisa juga mundur,” sebut Nyoto.

Oleh sebab itu, para petani kopi di Meranti masih membutuhkan pengembangan sumber daya manusia, agar mereka semakin paham membaca tanda-tanda alam. Selain itu, kecenderungan petani yang agak sulit menahan hasrat, membuat buah kopi sengaja dipanen sebelum waktunya tiba.

Akibatnya, kualitas hasil panen jadi tidak maksimal sehingga berpengaruh terhadap harga jual. “Kalau metik kopi ya harus yang masak, tapi kadang petani selalu metik yang belum matang,” kata Nyoto.

Selain itu, penanganan pascapanen masih tergolong sederhana — dipetik, dijemur, selesai. Tidak ada perhatian pada fermentasi, sortasi, atau profil rasa. Sayang rasanya, potensi sebesar liberika — selama bertahun-tahun — seolah terkubur di bawah proses yang terlalu kasar untuk biji sekelas ini.  “Tapi, sekarang sudah mulai berubah. Hanya saja masih belum maksimal,” ujarnya.

Di sisi lain, para petani kopi liberika di Kabupaten Kelupauan Meranti sangat membutuhkan sentuhan yang lebih masif dari pemerintah daerah. Sistem ijon yang berlaku dari para pengepul Malaysia, hingga kini masih cukup dominan. Sehingga berdampak terhadap perekonomian para petani pascapanen.

Abdurrahman Faturahmi menawarkan sesuatu yang cukup solutif. Menurutnya perlu ada intervensi dalam bentuk kebijakan yang lebih memihak kepada petani. Misalnya, pemerintah daerah bisa memberlakukan sistem Harga Eceran Tertinggi (HET) agar harga jual komoditi itu tetap stabil dan terjaga.

Upaya lain yang mungkin bisa dilakukan, pemerintah daerah bisa menjadi offtaker dalam hal rantai pasok. Caranya beragam. Bisa dengan membentuk koperasi, BUMDes, maupun BUMD dengan standar sistem yang lebih berpihak kepada petani, sebagai penjamin pasar (pembeli siaga).

Dengan begitu, setidaknya ada secercah harapan bagi komoditi ini — sebagai jembatan untuk meningkatkan kesejahteraan petani di masa yang akan datang. “Harapan kami, begitu,” ujarnya.

“Kami mungkin bisa berperan pada sisi inovasi pascapanen, pemerintah bisa mengambil bagian untuk menjamin pasar. Dengan begitu, liberika bisa semakin kuat untuk menjadi pemain, khususnya di pasar domestik,” sebut Abdurrahman.

***

Kopi liberika Meranti sudah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis (IG). Pada 20–21 Januari 2026, Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau bersama Dinas Perindusatrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Meranti serta Komunitas Orang Kopi Riau melaksanakan Pemetaan Komoditas Unggulan Kopi Liberika Meranti.

Rangkaian kegiatan meliputi coffee cupping, kunjungan ke kelompok tani, perkebunan Kopi Liberika di Pulau Rangsang, hingga sentra industri pengolahan kopi. Ditemukan varietas khas LIM 1 dan LIM 2 yang tumbuh di lahan gambut, menjadi keunikan dari varietas kopi itu.

Melalui pemetaan ini, Kopi Liberika Meranti ditegaskan sebagai komoditas unggulan berbasis karakteristik wilayah, sekaligus didorong penguatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah melalui berbagai program dan kerja sama ke depannya.

Sementara itu, Nyoto, Abdurrahman dan rekan-rekannya (di Sehasta Coffee & Erber Coffee) adalah gambaran dari dua generasi yang berbeda, namun disatukan oleh rasa cinta yang sama. Perjalanan panjang mereka di bidang ini seakan diikat dengan satu keyaninan yang sama pula.

Sadar atau tidak, kopi telah memaksa mereka agar terus mengasah kemampuan dan berinovasi untuk satu tujuan; Liberika Meranti yang tumbuh subur di tanah kelahiran mereka, bisa terus bangkit menjadi komoditi yang membanggakan.

Mereka sadar, menjaga aroma liberika Meranti bukan perkara mudah. Di satu sisi “si hitam” begitu populer di negeri orang. Namun di sisi lain, ia masih seperti orang asing di kampung sendiri.***

Tags: komoditikopiperkebunan
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Yayasan Hutan Tropis Tawarkan Praktik Bisnis Bertanggung Jawab
Lingkungan

Yayasan Hutan Tropis Tawarkan Praktik Bisnis Bertanggung Jawab

...

Read moreDetails
TPID Riau Sudah Mulai Petakan Komoditi Pangan Rawan Gejolak Harga saat Nataru

TPID Riau Sudah Mulai Petakan Komoditi Pangan Rawan Gejolak Harga saat Nataru

Realisasi Penanaman Peremajaan Kebun Kelapa Riau Baru 48 Persen

Realisasi Penanaman Peremajaan Kebun Kelapa Riau Baru 48 Persen

Limbah Ampas Kopi Ternyata Bisa Disulap Jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan

Limbah Ampas Kopi Ternyata Bisa Disulap Jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan

Happy Coffee, Kedai Kopi di Pekanbaru Ini Hadirkan Konsep Multi-Waktu

Happy Coffee, Kedai Kopi di Pekanbaru Ini Hadirkan Konsep Multi-Waktu

Sehasta Coffee, Dulu Pinjam Gerobak Angkringan, Sekarang Jadi Bagian Industri Kopi di Riau

Sehasta Coffee, Dulu Pinjam Gerobak Angkringan, Sekarang Jadi Bagian Industri Kopi di Riau

Next Post
BI Riau Dorong Pengembangan Potensi Kopi Lokal Lewat Peningkatan Kapasitas SDM

BI Riau Dorong Pengembangan Potensi Kopi Lokal Lewat Peningkatan Kapasitas SDM

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.