Technopreneurship, Politik dan Perempuan Cantik

Sabtu, 14 September 2013 10:33

BERTUAHPOS – Anda tentu tahu ungkapan berbau nasehat filosofis tentang tiga kata yang berakhir “ta”, yakni “tahta, harta dan wanita”. Ungkapan itu mewujud dalam bentuk nyatanya sekarang ini, tatkala beberapa kasus korupsi yang tengah diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK terkuak ke permukaan.

Media baru atau new media telah menjadi enabler atau memungkinkan terjadinya amplifikasi atas peristiwa-peristiwa semacam itu, kalau boleh meminjam istilah teman saya, seorang senior editor di Jakarta.

Sebutlah dari nama Ahmad Fathanah hingga Lutfil Hassan Ishaq, serta Maharani Suciono hingga Darin Mumtazah, hampir tak lekang tiap hari menghiasi breaking news dan trending news di banyak media online akhir-akhir ini.

Media online kini seperti menyetir wacana kehidupan. Perkembangan teknologi memang telah mengubah perilaku konsumen, termasuk perilaku para pelahap informasi.

Baca: MERDEKA DENGAN HANYA SATU SANDARAN

Maka media baru, dan segala produk turunannya termasuk media sosial, menjadi sumber rujukan sesaat, atau lebih tepatnya “seketika” atau real-time, yang kadang-kadang membuat lingkungan kita seperti banjir informasi.

Jadi tidaklah heran, manakala Pak SBY, panggilan akrab Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang tengah menerima award kenegarawanan atau Statesmanships di Amerika Serikat, pun punya akun twitter dan meraup jutaan follower atau jamaah dalam waktu singkat.

Di situ, media sosial bisa berperan sebagai indikator. Ternyata banyak orang yang pengin makmum ke SBY, kalau boleh meminjam istilah para kiai atau ustaz.

Ini juga membuktikan, meskipun SBY banyak dihujat, dikritik, tetapi sekaligus juga dirindukan. Setidaknya, akun twitternya begitu cepat dijejali para makmum yang ingin berjamaah dalam pergaulan media sosial.

Ya karena SBY presiden, populer, dan — belakangan — relatif kontroversial karena berbagai hal.

Seperti halnya akun twitter @SBYudhoyono yang begitu cepat populer, cerita tentang Fathanistic (untuk “kehebatan” Ahmad Fathanah yang dikaitkan dengan 45 nama perempuan cantik), atau Fatinistic (untuk kehebatan Fatin Sidqia Lubis yang baru saja memenangi kontes X Factor Indonesia sebagai penyanyi baru yang kebetulan berjilbab) begitu cepat menyebar melalui new media dan media sosial.

Kalau Anda penasaran, coba saja ketik nama Fatin atau Fathanah di papan tulis Prof Google, julukan saya untuk Google search karena menjadi guru besar yang mampu menjawab secara supercepat apapun pertanyaan yang kita ajukan. Pasti dalam hitungan sepersekian detik akan Anda peroleh jutaan jawaban, kecuali koneksi internet sedang ngadat.

Maka jangan heran, jika technopreneurship yang mengandalkan kreativitas dan teknologi sebagai sumber ide untuk lahan bisnis berkembang marak akhir-akhir ini.

Mungkin ini terinspirasi sukses Budiono Darsono, founder Detikcom, yang berhasil mendapatkan uang tunai dalam jumlah aduhai setelah menjual “situs era warta digital” kepada taipan media Chairul Tanjung.

Keberhasilan Budiono mengelola situs berita tak sampai dua dekade itu menginspirasi banyak orang lainnya untuk mengerjakan hal yang sama.

Di tataran aplikasi atau apps, Anda tentu paham betul persaingan sengit antara Apple dan Samsung, yang benar-benar memanfaatkan –atau pada taraf tertentu mengubah– perilaku konsumen dalam me-leverage teknologi untuk kehidupan sehari-hari.

Dan dari negeri tetangga Apple, yang beberapa tahun terakhir populer dengan Blackberry Messenger sebagai fitur unggulan Blackberry, kini mulai ketar-ketir dengan apa yang disebut Whatsapp. Pasalnya ia lebih “open” karena bisa diterapkan untuk jenis gadget apa saja, yang penting memakai identitas nomor telepon selular.

Kelihatannya sih layanan Whatsapp gratis, tetapi sebenarnya model bisnisnya sengaja membuat ketergantungan. Tentu dengan harapan setelah tahun kedua mau membayar meski relatif murah, tak sampai 1 dolar AS setahun.

Tetapi coba iseng saja deh, dengan model bisnis multioperator seperti itu, kalau tahun kedua saja punya 500 juta user, bisa dikalkulasi sendiri, angkanya pasti juga lebih dari sekadar aduhai.

Dan itu sangat mungkin, karena user-nya tidak terbatas pada layanan satu operator, tetapi multioperator dan peranti yang dipakai pun multigadget, alias bisa dari jenis gadget apa saja. Dan buat saya, model bisnis semacam itu adalah hasil dari realisasi ide technopreneur yang banyak akal.

Tak heran jika spirit technopreneurship lantas merambah ke semua jenis industri, yang lagi-lagi dimotori oleh perubahan perilaku konsumen dan kemajuan teknologi.

Maka, nomor ponsel pun kini menjadi sangat sakti. Coba deh, kalau belum pernah melakukan, barangkali sesekali Anda pernah melihat di televisi atau mendengar di radio, ada iklan dari Bank CIMB Niaga yang gencar melakukan promosi transaksi perbankan hanya lewat nomor ponsel yang berlaku seperti nomor rekening.

Sejumlah bank lain saya dengar berencana menjalankan praktik serupa. Maka secara industri, praktik bisnis keuangan semacam itu kemudian disebutlah sebagai bagian dari aktivitas branchless banking, atau praktik perbankan yang tak lagi membutuhkan kantor untuk transaksi. Cukup punya nomor ponsel, selesai.

Otoritas keuangan juga telah bertekad merestui praktik branchless banking itu tahun depan, melalui serangkaian uji coba tahun ini.

Namun dengan bercanda, saya katakan dalam sebuah forum diskusi bahwa kendala serius yang barangkali menghambat branchless banking di Indonesia adalah perilaku para politisi.

Mengapa? Ya, sejumlah oknum politisi –atau broker politik– tentu tak mau transaksi keuangannya dilacak, sehingga akan lebih suka pakai transaksi tunai karena takut diburu KPK.

Tetapi sebaliknya harap hati-hati pula dengan ponsel Anda. Di tengah kemajuan teknologi seperti sekarang ini, sadap-menyadap juga menjadi praktik yang amat lumrah.

Maka, jangan terkaget-kaget jika percakapan telepon atau sms-an bisa ditranskrip begitu rupa, seperti deal tarif makan malam atau fee untuk berkencan lebih dari sekadar makan malam, beredar luas ke ranah publik.

Dan itulah seputar pernak-pernik yang muncul dalam fakta persidangan terkait dengan kasus suap impor daging sapi belakangan ini, yang menyinggung jantung hati sebuah partai politik besar. Toh mereka tetap berkelit bahwa sang aktor cuma seorang makelar.

Nah, kalau sudah urusan hak, semuanya ingin menyerobot, seperti saat macet di jalanan. Tapi begitu harus bertanggungjawab, apalagi menyangkut citra sebuah organisasi politik besar, semua lari tunggang-langgang. Dan makelar menjadi kambing hitam.

Maka, untuk yang ini saya jadi ingat dan terpaksa harus sangat setuju dengan kawan saya, Burhanuddin Muhtadi, seorang pollster politik yang sekarang sedang naik daun.

Menurut dia, sistem demokrasi gado-gado, dalam arti sistem politik multipartai, tetapi sistem pemerintahan presidensial, telah membuat penguasa jadi tak berkutik. Malah yang tumbuh subur adalah politik transaksional.

Maka, di tengah lingkungan demokrasi transaksional semacam itu, jadinya nggak ada leader, yang ada adalah dealer alias tukang membuat deal. Termasuk deal dengan perempuan-perempuan cantik.

Bagaimana menurut Anda?
(bisnis.com)