BERTUAHPOS — Harga emas kini tengah naik gila-gilaan. Beberapa kali rekor baru harga tertinggi sudah dilampaui. Tak ada yang menyangka kondisinya bisa seperti ini.
Pergerakan harga emas tidak bisa disamakan dengan grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang begitu sensitif terhadap berbagai isu. Secara fundamental grafik pergerakan tumbuhnya cenderung stabil dalam jangka waktu lama.
Bank investasi asal Amerika Serikat, JPMorgan, bahkan tetap mempertahankan pandangan optimistis terhadap prospek harga emas global, meski pasar sempat mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir.
Dalam laporan terbarunya yang dikutip dari Kitco News Selasa, 3 Februari 2026, JPMorgan memproyeksikan harga emas akan mencapai US$6.300 per troy ons pada akhir tahun 2026, didorong oleh perubahan strategi investasi global dan permintaan kuat dari bank sentral.
Proyeksi tersebut dirilis setelah harga emas mencatat penurunan terbesar dalam beberapa dekade. Pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, emas anjlok lebih dari 10% dalam satu sesi, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di kisaran US$5.600 per troy ons.
Meski terjadi koreksi signifikan, analis JPMorgan menilai tren jangka panjang emas masih sangat kuat. Dalam catatan riset yang diterbitkan Minggu malam 1 Februari 2026, bank tersebut menyoroti berlanjutnya diversifikasi portofolio investor global ke aset riil.
Analis JPMorgan menyebut emas masih memiliki ruang kenaikan yang luas, seiring kinerja aset riil yang dinilai lebih unggul dibandingkan aset keuangan berbasis kertas dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
“Emas tetap berada dalam rezim kinerja aset riil yang kuat dan berpotensi terus mengungguli aset keuangan lainnya,” tulis tim analis JPMorgan dalam laporan tersebut.
Lebih jauh, tim ahli strategi JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolaos Panigirtzoglou memperkirakan harga emas bahkan berpeluang menyentuh US$8.000 per troy ons pada akhir dekade ini, jika alokasi dana investor swasta ke emas terus meningkat.
Selain investor swasta, JPMorgan menilai bank-bank sentral dunia akan tetap menjadi penopang utama harga emas. Pembelian emas oleh otoritas moneter diperkirakan berlanjut sebagai upaya menjaga stabilitas cadangan devisa dan lindung nilai terhadap risiko global.
Dalam proyeksinya, JPMorgan memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral global dapat meningkat hingga 800 ton sepanjang 2026, memperkuat permintaan struktural terhadap logam mulia tersebut.
Dengan kombinasi diversifikasi aset, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta pembelian agresif bank sentral, JPMorgan menegaskan bahwa prospek jangka menengah hingga panjang emas masih berada dalam tren bullish.***









