Politik Asketis, Pertarungan Antara Citra dan Reputasi

Jumat, 17 Januari 2020 07:02
Politik Asketis, Pertarungan Antara Citra dan Reputasi

Oleh: Sofyan Siroj
Anggota DPRD Provinsi Riau



Partai politik merupakan suatu organisasi yang mengandalkan kepercayaan publik, persoalan citra positif merupakan suatu keharusan. Maka perlu dibangun desain komunikasi politik dalam membangun “good image” partai politik. Semua usaha ini adalah untuk membangun integritas partai politik dan ketokohan kepemimpinan partai.

Advertisement

Ujang Risdianto, S.Ikom, M.Ikom seorang peneliti komunikasi CSR menyamakan partai politik dengan tanggungawab sosial kemasyarakatan sebuah perusahaan. Yaitu tanggungjawab sosial. Setidaknya ada tiga alasan penting menurutnya mengapa setiap partai politik harus merespon dan mengembangkan isu tanggungjawab sosial yaitu:

Pertama, partai politik adalah bagian dari masyarakat. Kedua, partai politik dan konstituen seharusnya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Ketiga, kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) adalah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial.

Baca: Cegah Korupsi Anggaran COVID-19, Pemerintah Daerah Harus Terbuka

Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, keadaan partai politik sangat berbeda satu sama lainnya. Partai politik pada umumnya lemah manajemen organisasinya dan jarang memiliki dukungan massa yan luas dan kokoh. Kebanyakan partai politik dan tokoh-tokohnya hanya turun kemasyarakat saat-saat event-event pilkada dan pemilu saja mendulang suara masyarakat.

Di lain sisi, isu kerakyatan santer terdengar. Namun tanpa realiasasi yang memadai. Malah persoalan elitis yang menelan banyak ruang dan waktu, seolah menjadi hidangan getir, mau tidak mau, suka tidak suka, harus diterima dan ditelan bulat-bulat oleh rakyat. Rakyat hanya berfungsi sebagai mesin penggerak pemilu dan pilkada, itu pun sebatas menjadi pemilih (voter), tidak kurang tidak lebih.

Paham politik Asketis lebih mengutamakan reputasi daripada sekadar citra. Citra adalah kesan, perasaan, gambaran dari public terhadap perusahaan atau organisasi; kesan yang sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi. (Soemirat dan Ardianto: 2002).

Sedangkan reputasi adalah suatu nilai yang diberikan kepada Individu, institusi atau Negara. Reputasi tidak bisa diperoleh secara singkat karena harus dibangun bertahun-tahun lamanya menghasilkan sesuatu yang bisa dinilai oleh publik. Reputasi juga baru bertahan dan sustainable apabila konsisten perkataan dan perbuatan. (Basya: 2006).

Citra atau pencitraan bisa dilakukan dengan kerjasama dengan media dan memoles baik itu parpol ataupun tokoh politik. Sedangkan reputasi adalah karakter hidup dari kultur partai politik dan tokoh politik yang ada di dalamnya. Maka PKS memilih reputasi dengan memilih tagline berkhidmat untuk rakyat.

Salam Total Leadership!