Oleh: Daru TS
Ketika malam perlahan meluruh dan fajar mulai menyapa, ada sebuah pertanyaan yang sering kali luput dari benak kita: Apakah kita benar-benar hidup, atau sekadar ada? Dunia sering kali menyilaukan mata hingga kita kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang fana dan yang baka, antara cahaya dan kegelapan. Di dalam keheningan Tahajud, kita diajak untuk menyingkap tabir tersebut melalui sebuah refleksi mendalam dari firman Allah SWT dalam Surah Ghafir ayat 58.
Membuka Mata, Melihat Hakikat
Al-Qur’an menghamparkan sebuah perumpamaan yang lugas namun menohok: “Tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat. ” Kebutaan yang dimaksud di sini bukanlah terbatas pada hilangnya penglihatan fisik, melainkan tertutupnya mata batin dari kebenaran. Seorang yang beriman dan senantiasa menanam benih amal saleh adalah mereka yang “melihat”. Mereka melihat kesempatan berbuat baik di balik kesulitan, dan melihat kehadiran Tuhan di balik setiap kejadian.
Sebaliknya, kejahatan dan maksiat adalah bentuk kebutaan. Ia membuat pelakunya meraba-raba dalam kegelapan, menganggap kesenangan sesaat sebagai kebahagiaan sejati, padahal ia sedang berjalan menuju jurang penyesalan.
Denyut Zikir: Pembeda Antara Hidup dan Mati
Refleksi ini diperkuat dengan analogi yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Beliau menggambarkan bahwa pembeda antara seorang hamba yang mengingat Allah (dzikrullah) dan yang tidak, adalah ibarat orang yang hidup dan orang yang mati.
Seringkali kita merasa “hidup” karena jantung masih berdetak dan raga masih bergerak. Namun, jika hati kosong dari mengingat-Nya, hakikatnya kita hanyalah raga yang hampa. Zikir adalah oksigen bagi ruh. Tanpanya, jiwa akan layu, mengeras, dan akhirnya mati meskipun tubuhnya berjalan di atas bumi.
Ironi Kelalaian Manusia
Bagian yang paling menggetarkan dari renungan ini adalah teguran lembut namun pedas: “Hanya sedikit sekali yang kamu ambil pelajaran.”
Kita sering diberikan tanda-tanda. Melalui peristiwa alam, ujian hidup, hingga pertemuan-pertemuan tak terduga, Allah sebenarnya sedang berbicara kepada kita. Namun, riuhnya dunia seringkali membuat kita tuli. Kita terbiasa menyamakan yang lurus dengan yang bengkok, menganggap remeh amal kecil, dan memaklumi dosa yang dianggap biasa.
Senin pagi ini, di pertengahan bulan Syawal, adalah momentum tepat untuk “melek” secara spiritual. Jangan biarkan hari ini berlalu hanya sebagai rutinitas fisik tanpa makna.
Doa dan Harapan
Sambil menghirup udara pagi yang penuh berkah, mari kita titipkan doa ke langit. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita Bashirah—penglihatan hati yang tajam—agar mampu membedakan hak dan batil.
Semoga langkah kita hari ini dibimbing oleh taufiq dan hidayah-Nya. Diberikan kesehatan yang menguatkan ibadah, rezeki yang halal lagi berkah, serta dimudahkan segala urusan dunia menuju keselamatan akhirat. Jadikanlah kami, ya Allah, hamba-Mu yang selalu “hidup” dengan mengingat-Mu di setiap hela napas.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wallahu a’lam.(**)









