BERTUAHPOS — Puluhan ribu warga Kuba turun ke jalan pada Jumat, 16 Januari 2026. Mereka menyatakan protes terhadap kebijakan Amerika Serikat menyusul serangan militer di Venezuela yang menewaskan 32 perwira Kuba.
Unjuk rasa berlangsung di plaza terbuka “José Martí Anti-Imperialist” di seberang Kedutaan Besar AS di Havana, menjadi salah satu gelombang demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dilansir dari The Japan News.
Demonstrasi yang digerakkan pemerintah Kuba itu sekaligus menuntut agar Washington membebaskan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang ditangkap AS dalam operasi militer di Caracas pada 3 Januari 2026. Serangan itu menewaskan perwira-perwira Kuba yang tergabung dalam pasukan keamanan Maduro, dan langsung memicu krisis diplomatik antara Kuba dan AS.
Ribuan peserta berkumpul sejak dini hari di plaza simbolik perlawanan anti-imperialis di ibukota Havana. Mereka mengibarkan bendera Kuba dan Venezuela, menyanyikan lagu kebangsaan, serta meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika. Para demonstran menyerukan kembali kedaulatan nasional dan menolak apa yang mereka sebut sebagai agresi asing.
Seorang peserta demo, René González (64), mengatakan aksi itu mencerminkan perlawanan rakyat Kuba terhadap tekanan eksternal. “Kita harus menunjukkan bahwa ide lebih berharga daripada senjata,” ujarnya. Ucapan ini menggambarkan nuansa emosional di tengah massa yang memadati area tersebut, seperti dilaporkan oleh ABC Columbia.
Presiden Miguel Díaz-Canel hadir langsung di tengah kerumunan. Ia mengecam keras kebijakan pemerintahan AS dan menyebut tindakan Washington telah membuka “era barbarisme, penjarahan, dan neo-fasisme.”
Díaz-Canel menegaskan bahwa Kuba tidak akan membuat konsesi politik kepada AS, tetapi tetap terbuka untuk dialog asalkan didasarkan pada persamaan dan saling menghormati.
Setelah pidato, demonstrasi berlanjut menjadi pawai pejuang — sebuah tradisi yang muncul sejak era Fidel Castro — dengan peserta memegang foto-foto para perwira Kuba yang gugur dalam serangan di Venezuela. Teriakan “Turunkan imperialisme!” dan “Kuba akan menang!” berkali-kali menggema di sepanjang rute pawai.
Aksi besar-besaran ini berlangsung setelah AS dan Kuba mengalami eskalasi tensi yang signifikan. Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu menyatakan Cuba harus membuat kesepakatan dengannya sebelum “terlambat,” tanpa merinci bentuk kesepakatan yang dimaksud.
Trump juga menyatakan bahwa Kuba tidak akan lagi bergantung pada minyak dan bantuan finansial dari Venezuela, langkah yang dinilai berpotensi memicu krisis energi dan ekonomi lebih parah di Kuba.
Sejak pemberlakuan sanksi yang lebih ketat oleh pemerintahan Trump, Kuba telah menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat, termasuk pemadaman listrik yang lebih sering dan kesulitan impor energi. Kondisi ini memperburuk suasana publik, meski demonstrasi yang berlangsung kini bersifat patriotik dan didorong oleh narasi pemerintah.
Meski protes kali ini tampil besar dan penuh semangat patriotik, dinamika hubungan antara Kuba dan AS tetap kompleks. Pemerintah Kuba menegaskan kesediaannya untuk berdialog, tetapi hanya jika diperlakukan sebagai mitra yang setara. Sementara itu, tekanan dan ultimatum dari Washington mencerminkan arah kebijakan luar negeri AS yang lebih agresif di kawasan Amerika Latin.***









