BERTUAHPOS – Republik Islam Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Keputusan yang diumumkan pada Minggu, 8 Maret 2026.
Naiknya Mojtaba Khamenei di tahta tertinggi kepemimpinan Iran menjadi babak baru sekaligus kontroversial, karena untuk pertama kalinya sejak Revolusi 1979, kepemimpinan tertinggi Iran beralih dengan pola turun-temurun layaknya sebuah dinasti.
Majelis ulama yang bertanggung jawab dalam pemilihan ini menyatakan bahwa pria berusia 56 tahun tersebut terpilih melalui “pemungutan suara yang menentukan”.
Langkah ini diambil di tengah situasi kritis setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada akhir Februari lalu.
“Kami mendesak seluruh rakyat, terutama para elit dan intelektual dari seminari dan universitas, untuk menyatakan kesetiaan kepada kepemimpinan baru dan menjaga persatuan nasional pada saat kritis ini,” tulis pernyataan resmi majelis tersebut yang disiarkan media pemerintah setempat, seperti dilansir Bertuahpos dari The Guardian, Senin, 9 Maret 2026.
Pengangkatan Mojtaba langsung mendapat dukungan penuh dari internal rezim. Pimpinan angkatan bersenjata dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan siap setia di bawah komandonya. Namun, di panggung internasional, ketegangan justru memuncak. Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan menolak hasil tersebut.
“Pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan bertahan lama jika Teheran tidak mendapatkan persetujuan kami terlebih dahulu. Mojtaba Khamenei adalah pilihan yang tidak dapat diterima,” tegas Trump.
Senada dengan AS, militer Israel melalui unggahan di media sosial X memperingatkan bahwa mereka akan mengejar siapa pun yang mencoba menduduki kursi pimpinan tertinggi di Iran.
Kenaikan Mojtaba memicu perdebatan sengit mengenai masa depan politik Iran. Ironisnya, Republik Islam didirikan di atas semangat menggulingkan sistem monarki Shah, namun kini justru menerapkan suksesi ayah-ke-anak.
Meski selama ini Mojtaba lebih banyak bergerak di balik layar dan tidak pernah memegang jabatan publik, ia dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran dalam Garda Revolusi.
Di sisi lain, sekutu regional Iran seperti pemberontak Houthi di Yaman menyambut hangat berita ini.
“Kami mengucapkan selamat kepada Republik Islam Iran atas terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei. Ini adalah kemenangan baru bagi Revolusi Islam dan pukulan telak bagi musuh,” tulis kelompok Houthi dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, situasi di Teluk semakin panas. Pasca serangan Israel ke fasilitas energi di Teheran, harga minyak dunia meroket. Iran bahkan mengancam akan menyerang fasilitas minyak negara tetangga jika perang berlanjut.
“Jika Anda bisa mentolerir harga minyak lebih dari $200 per barel, silakan lanjutkan permainan ini,” tantang juru bicara IRGC.***









