BERTUAHPOS.COM – Selat Hormuz kembali dilintasi kapal-kapal milik perusahaan pelayaran besar untuk pertama kalinya dalam 110 hari, menyusul kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri konflik bersenjata kedua negara.
Dilansir dari The Japan News, Pemimpin Redaksi Lloyd’s List Intelligence Richard Meade mengungkapkan, dalam konferensi pers pada Kamis, 18 Juni 2026, bahwa kapal-kapal milik perusahaan besar praktis terdampar di selat itu sejak Februari lalu, dan kini mulai bergerak kembali setelah perjanjian tersebut ditandatangani.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum perang mengangkut seperlima minyak mentah dunia. Penutupan selat selama masa konflik memicu krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Lloyd’s List mencatat bahwa kapal tanker milik Grimaldi Group, Cosco, Knutsen, dan NYK telah berhasil melintasi selat tersebut. Selain itu, dua kapal tanker minyak mentah berbendera Iran milik National Iranian Tanker Company juga tercatat memasuki selat yang sama.
Perusahaan pelacakan maritim Kpler melaporkan enam penyeberangan kapal terverifikasi pada Rabu dan 11 penyeberangan tambahan pada Kamis. Wakil Presiden AS JD Vance juga membenarkan bahwa Angkatan Laut AS telah mencabut blokade selat guna memungkinkan sejumlah kapal memasuki pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyebut kapal dagang Italia milik Grimaldi Group termasuk dalam kapal pertama yang melintasi Selat Hormuz pascaperjanjian. Hal itu ia sampaikan melalui unggahan di platform X.
Direktur Kelautan Intertanko, Phillip Belcher, menjelaskan bahwa jalur utama di tengah selat masih ditutup dan diperkirakan terdapat sekitar 80 ranjau yang perlu dibersihkan. Kapal-kapal saat ini melewati jalur utara yang melintas di perairan Iran dan jalur selatan yang melintas di perairan Oman.
“Kedua rute itu tampaknya sekarang sudah sepenuhnya terbuka,” kata Belcher. Namun ia mengingatkan bahwa kedua jalur alternatif tersebut tidak memiliki kapasitas sebesar jalur utama.
Belcher menggambarkan kondisi ini seperti jalan raya yang bahu jalannya terpaksa difungsikan sebagai jalur utama. “Kita perlu mengembalikan jalan raya ke kondisi terbuka,” ujarnya.
Lloyd’s List memperkirakan sekitar 550 kapal dagang perlu bersiap meninggalkan Teluk Persia, termasuk 160 kapal tanker, 200 kapal pengangkut barang curah, 60 kapal kontainer, dan 10 kapal pengangkut kendaraan. Pembukaan penuh Selat Hormuz diperkirakan masih membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan ke depan









