BERTUAHPOS – Berkekuatan 6,2 skala Richter, gempa bumi yang mengguncang Afghanistan dilaporkan telah menewaskan 2.205 orang. Ini menjadi bencana paling mematikan yang melanda negara itu dalam beberapa dekade terakhir.
Dilansir dari The Guardian, Jumat, 5 September 2025, Pusat Geosains Helmholtz Jerman melaporkan gempa terjadi di wilayah tenggara Afghanistan pada Kamis malam.
Lalu, guncangan susulan berkekuatan 5,5 SR pada Selasa semakin, semakin memperburuk kondisi. Gempa itu memicu longsoran batu, sehingga upaya penyelamatan pun terkendala.
“Jumlah korban jiwa meningkat drastis,” kata Juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, dari perkiraan awal 1.400 orang menjadi 2.205.
Sebagian besar korban berada di Provinsi Kunar, di mana hampir seluruh desa hancur akibat gempa. Islamic Relief mencatat sekitar 98% bangunan di Kunar rusak berat atau rata dengan tanah.
Di lokasi, tim penyelamat yang diturunkan berjuang keras. Mereka masuk ke desa-desa terpencil dan terisolasi karena jalan terputus akibat longsor.
Sementara pasukan Taliban dikerahkan bersama helikopter dan komando militer untuk mencari korban selamat, lalu petugas bantuan berjalan kaki berjam-jam menembus medan berbatu di gunung-gunung.
Seorang warga, Muhammad Israel, menceritakan tanah longsor mengubur rumah, ternak, dan harta bendanya. Dia kini tinggal di kamp medis PBB di Nurgal tanpa tempat tinggal layak.
Dia dan korban selamat lainnya kini hidup di bawah langit terbuka. “Situasinya sangat buruk,” katanya.
Krisis semakin parah karena minimnya bantuan internasional. sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, mereka “seperti tidak dianggap.”
Banyak lembaga kemanusiaan kesulitan beroperasi, sehingga pasokan obat, makanan, dan tenda sangat terbatas.
Dewan Pengungsi Norwegia menyebut hanya memiliki 450 staf aktif, jauh berkurang dari 1.100 pada 2023, dengan dana darurat yang tersedia hanya sekitar USD 100.000.
Hingga kini, sekitar 84.000 orang terdampak gempa, puluhan ribu kehilangan rumah, dan ribuan lainnya masih menunggu pertolongan. Situasi diperburuk oleh kekeringan, krisis ekonomi, serta pemulangan paksa jutaan warga Afghanistan dari Pakistan dan Iran.***









