• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Oktober 31, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Buya Hamka Ulama Patriotik (Bagian 3): Berdakwah dan Mendidik

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 September 2018
Share on FacebookShare on Twitter
BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Tahun 1926, Abdul Malik kembali ke Padang Panjang. Tujuannya adalah untuk berdakwah dan menyiarkan Islam di kampung halaman.
 
Namun, sambutan masyarakat tak seperti yang diharapkan. Pidato Abdul Malik tak didengarkan, karena dianggap masih anak kemarin sore.
 
Karena itu, Abdul Malik kemudian memutuskan untuk pergi ke tanah suci. Namun, pada tanggal 28 Juni 1926, gempa 7,6 Skala Richter mengguncang Padang Panjang. Gempa ini menimbulkan kerusakan besar, termasuk Madrasah Thawalib sang ayah, Haji Rasul. Karenanya, Abdul Malik menunda kepergiannya ke tanah suci.
 
Februari 1927, Abdul Malik akhirnya berangkat ke tanah suci. Selama di tanah suci, dia tinggal di rumah Hamid bin Majid, seorang penduduk Mekkah kenalan ayahnya, Haji Rasul.
 
Selama di Mekkah, Abdul Malik banyak belajar pemahaman Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang ulama besar yang juga merupaka guru dari Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan juga Haji Rasul.
 
Di Mekkah jugalah Abdul Malik bertemu dengan Agus Salim, seorang pejuang kemerdekaan dan juga merupakan seorang pahlawan nasional. Abdul Malik yang pada awalnya ingin menetap dulu di Mekkah, dinasehati oleh Agus Salim agar segera kembali ke Nusantara. Dari Agus Salim pulalah Abdul Malik mengetahui nama Indonesia, yang sebelumnya hanya dikenalnya sebagai Hindia Belanda.
 
1928, Haji Abdul Malik benar-benar kembali ke Indonesia. Dia kemudian memutuskan untuk menetap terlebih dahulu di Medan, tepatnya di Tebing Tinggi, untuk berdakwah dan menerapkan ilmunya. Tidak hanya itu, Abdul Malik juga menjadi seorang wartawan di surat kabar harian Pelita Andalas. Di surat kabar ini, Abdul Malik mempunyai nama Pena, yaitu Hamka, singkatan namanya sendiri, Haji Abdul Malik Karim Amrullah.
 
Selain jadi wartawan, Hamka juga aktif mengajar mengaji dan juga berdakwah. Hingga akhirnya, dia diminta pulang oleh Haji Rasul dan berdakwah di Padang Panjang. Tahun 1928, setelah kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo, Hamka dipercaya untuk menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Padang Panjang. Aktivitas berdakwah Hamka pun semakin padat. Dalam dakwahnya, Hamka juga menerbitkan Majalah Kemauan Zaman, yang mana dia sendiri yang menjadi pemimpin redaksi.
 
Dalam bidang pendidikan, Hamka mendirikan sekolah yang diberi nama Tabligh School. Sebagai Kepala Sekolah, Hamka juga mendidik murid dengan Islam yang bebas dari bid’ah, kesyirikan, dan khurafat, sesuai tujuan Muhammadiyah.
 
Hamka juga aktif menulis buku, dari buku agama hingga buku roman. Namun, buku-buku karya Hamka tidak disenangi pemerintah Kolonial Belanda. Buku-buku karya Hamka kemudian dilarang beredar, dengan alasan membahayakan.
 
Semangat Hamka dalam berdakwah tak pernah surut, meski bukunya dilarang oleh Belanda. Tahun 1931 hingga 1934, Hamka bahkan berdakwah di Sulawesi, tepatnya di Kota Makassar. Di kota ini, dia berdakwah sambil mengembangkan organisasi Muhammadiyah.
 
Dalam periode 1930 hingga 1940, banyak buku yang berhasil diselesaikan Hamka. Dalam pendidikan agama, dia menulis buku Pelajaran Agama Islam yang kemudian diberendel Pemerintah Kolonial Belanda.
 
Di bidang sastra, buku yang berhasil diselesaikan Hamka antaranya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. 2 buku ini berhasil diselesaikannya di Kota Medan, saat dia menjadi pimpinan redakis majalah Pedoman Masyarakat. Kelak, karyanya ini semakin dikenang orang, bahkan diadopsi dalam bentuk film. (bpc2)
 
Sumber: Buya Hamka, Sebuah Novel Biografi. Karangan: Haidar Musyafa, Penerbit: Imania tahun 2018
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Tim Redaksi

Tim Redaksi


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Pekan Seni Budaya Riau Kompleks, Bersatu dalam Keragaman
Berita Pilihan

Pekan Seni Budaya Riau Kompleks, Bersatu dalam Keragaman

...

Read moreDetails
Kalender 2027, Tanggal Merah, Libur Nasional dan Cuti Bersama

Kalender 2027, Tanggal Merah, Libur Nasional dan Cuti Bersama

3 Rekomendasi HP Xiaomi Harga Rp3 Jutaan dengan Performa Terbaik

3 Rekomendasi HP Xiaomi Harga Rp3 Jutaan dengan Performa Terbaik

Hari Novar Terima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2026

Hari Novar Terima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2026, 10 Tahun Menggerakkan Pendidikan di Pelosok

KPK Sebut Kasus Cukai PT Djarum Rugikan Negara Triliunan Rupiah

KPK Sebut Kasus Cukai PT Djarum Rugikan Negara Triliunan Rupiah

Mengenal Googlebook OS dan Perbedaannya dengan ChromeOS Pada Chromebook

Mengenal Googlebook OS dan Perbedaannya dengan ChromeOS Pada Chromebook

Next Post

Diduga Terlibat Pencabulan, Rektor UIR Nonaktifkan 2 Staf Pegawai

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.