• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 29, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Besesandingon, Social Distancing ala Orang Rimba

Tim Redaksi by Tim Redaksi
18 April 2020
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM, Jakarta – Sejak merebaknya Covid-19 sebulan lalu, Orang Rimba yang berdiam di bagian pinggir kawasan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), telah melakukan antisipasi dengan masuk kembali ke tengah hutan. Mereka menyebutnya “Besesandingon”, yaitu mengasingkan diri dari orang yang sakit atau yang diduga mengidap penyakit.

“Orang rimba masih memegang tradisi yang merupakan kearifan leluhur, termasuk budaya menyendiri di dalam hutan, yang saat ini ternyata dapat dianalogikan dengan istilah WFH, social distancing atau physical distancing,” tutur Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KSDAE KLHK) Wiratno, Kamis (16/4).

Di Indonesia, disampaikan Wiratno, terdapat kekayaan berupa ribuan praktik tradisional yang selaras dengan alam. Misalnya yang dijalankan oleh suku Mentawai yang tidak pernah menggunakan api untuk penyiapan lahan garapnya. Ada juga suku Daya yang memiliki sistem siklus bera berhutan dari sistem ladangnya. Di wilayah Maluku dan Papua ada sistem sasi, yaitu mengistirahatkan pengambilan sumberdaya laut dalam jangka tertentu. Nilai-nilai adat budaya seperti itu yang menjadi fondasi dalam konservasi di era modern.

“Momentum pandemi Covid-19 ini, seperti sebuah momentum kita untuk lebih arif dalam kehidupan di bumi, yang ternyata memerlukan istirahat dari gegap gempitanya kegiatan manusia yang seolah-olah tanpa henti. Dari Orang Rimba, kita belajar kembali kepada alam, dan mengikuti hukum-hukumNya,” ungkapnya.

Berbicara lebih jauh mengenai besesandingon, Kepala Balai TNBD Haidir menyampaikan, kebiasaan ini sudah mereka lakukan secara turun temurun, dan merupakan salah satu kearifan lokal Orang Rimba. Hal ini mereka lakukan untuk menjauhi keramaian, agar tidak terkena wabah penyakit.

Sebagai contoh, bila ada anggota keluarga yang baru pulang dari luar hutan yang jaraknya jauh, tidak akan langsung tinggal di rumahnya, akan tetapi membuat sudung atau rumah tenda sendiri yang jaraknya paling dekat 200 meter dari rumah keluarganya, dengan tujuan jika membawa penyakit dari luar, tidak akan menulari yang lain. Minimal satu minggu tidak sakit, berarti bisa satu rumah kembali dengan keluarganya

“Budaya mitigasi yang melekat pada suku anak dalam, itu yang mereka sebut “besesandingon”. Kearifan lokal ini, menjadi hal yang sangat relevan dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini,” ungkap Haidir.

Menurut Temenggung Bepayung, dan mantan Temenggung Tarib yang sekarang menjadi tetua adat, orang rimba sudah terbiasa secara turun temurun melakukan “besesandingon”, yaitu memisahkan diri atau menjauhkan diri dari orang sakit atau yg diduga mengidap penyakit menular, termasuk penyakit pilek dan batuk. Jadi begitu mereka mengetahui tentang penyakit korona, respon yang sama dilakukan oleh mereka.

Akibat pengaruh dari luar, menurut Temenggung Tarib, bahwa Orang Rimba zaman dulu dengan sekarang sudah berbeda atau berubah dalam hal menerapkan kebiasaan turun temurun dari nenek moyangnya. Orang rimba zaman dulu sangat ketat menerapkan pantangan dan larangan adat di dalam kelompok.

“Contoh, zaman dulu jika ada yang sakit batuk saja, itu tidak boleh melewati jalan yang biasa dilewati di dalam hutan. Kalaupun terpaksa, si penderita penyakit tersebut harus memberi tanda di ujung dan pangkal jalan, bahwa jalan tersebut baru saja dilewati oleh orang sakit, sehingga jalan tersebut tidak boleh dilewati orang lain yang sehat, selama minimal 7 hari atau 1 minggu. Tanda yang biasa dipasang di ujung atau pangkal jalan adalah ranting pohon atau kayu berduri,” jelasnya.

Meski aturan adat seperti ini sudah banyak yang dilanggar oleh generasi sekarang, “besesandingon” masih dijalankan oleh hampir seluruh kelompok Orang Rimba di Taman National Bukit Duabelas. Terkait hal ini, Haidir menyampaikan TNBD tela berupaya untuk membantu menjaga, dan melestarikan kearifan lokal suku anak dalam di bidang kesehatan ini.

“Kami mengadaptasi aturan adat ke dalam sistem tata kelola Taman Nasional Bukit Dua Belas. Dimulai dari agenda bersama bertajuk Memadukan Aturan Adat Orang Rimba dengan Aturan Negara dalam Penyusunan Zonasi TNBD,” kata Haidir.

Selain itu, TNBD juga menyelenggarakan Sekolah Rimba, yang berjumlah 6 sekolah di 3 Kabupaten. Pertama, di Kabupaten Sarolangun yaitu Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning, dan Sekolah Rimba Sako Selensing. Selanjutnya, di Kabupaten Batanghari yaitu Sekolah Rimba Kejasung, dan Sekolah Rimba Srengam. Sedangkan di Kabupaten Tebo yaitu Sekolah Rimba Sako Nini Tuo, dan Sekolah Rimba Sungai Betnai.

“Kami juga mempunyai program “mobile school” atau sekolah berjalan, mengikuti kelompok orang rimba yang sedang melakukan ritual melangun,” kata Haidir.

Ritual ini mereka lakukan saat ada anggota kelompok yang mendapat musibah kematian. Tujuannya adalah menghilangkan duka cita keluarga. Mereka hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya selama berbulan-bulan.
Mereka kembali ke tempat semula ketika rasa berduka sudah hilang atau terlupakan.

Untuk pelayanan kesehatan, mereka bisa mendapatkannya di puskesmas terdekat. Selain itu, TNBD juga mempunyai program bersama dengan klinik perusahaan setempat yaitu ” puskesmas berjalan”.

“Jadi tim medis yang mendatangi ke lokasi bermukim kelompok di dalam kawasan TNBD. Sudah ada juga akses ke RSUD, dan Puskesmas dengan bebas biaya untuk suku anak dalam,” tutur Haidir.

Suku anak dalam yang bermukim di dalam kawasan TNBD ada 13 kelompok Temenggung, dengan 718 KK dan 2.960 jiwa (Hasil sensus TNBD bersama BPS Sorolangun, April 2018).

Sementara itu, antisipasi yang dilakukan Orang Rimba diatas melalui “besesandingon”, membawa konsekuensi sementara waktu mereka akan jauh dari pusat perekonomian desa atau pasar. Hal ini menyebabkan kesulitan akses untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sudah terbiasa dengan bahan makanan dari pasar.

Sebagai bentuk kepedulian kepada Orang Rimba, TNBD menyalurkan bantuan makanan tambahan untuk 718 Kepala Keluarga (KK) Orang Rimba/Suku Anak Dalam (SAD) yang hidup, dan bermukim di dalam kawasan TNBD Jambi (8/4).

“Semoga kearifan lokal “besesandingon” yang mereka jalankan saat ini, benar-benar bisa menghindarkan komunitas Orang Rimba TNBD dari penyebaran Covid-19,” pungkas Haidir.***(rls/bpc17)

Share2Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Tim Redaksi

Tim Redaksi


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Soal Perkara Suhardiman Amby, KPK Pastikan Sudah di Tahap Penuntutan
Hukum Kriminal

Soal Perkara Suhardiman Amby, KPK Pastikan Sudah di Tahap Penuntutan

...

Read moreDetails
Segera Disidangkan, Kasus Dugaan Suap Suhardiman Amby Masuk Tahap II

Segera Disidangkan, Kasus Dugaan Suap Suhardiman Amby Masuk Tahap II

Tingkatkan Literasi Digital, BRK Syariah Bekali Pimpinan tentang Penggunaan AI

Tingkatkan Literasi Digital, BRK Syariah Bekali Pimpinan tentang Penggunaan AI

Harga dan Spesifikasi Mitsubishi XForce, SUV Kompak Tangguh dengan Fitur Canggih

Harga dan Spesifikasi Mitsubishi XForce, SUV Kompak Tangguh dengan Fitur Canggih

Sepatu Sneaker Puma Wanita Speedcat Croco Pakai Kulit Sapi 98,12%

Sepatu Sneaker Puma Wanita Speedcat Croco Pakai Kulit Sapi 98,12%

35% Jalan Provinsi Riau Masih Kategori Tidak Mantap

35% Jalan Provinsi Riau Masih Kategori Tidak Mantap

Next Post

Bocah Kelas 1 SD Ini Sumbang Celengannya untuk Bantu Penanganan COVID-19

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.