Permainan Tarik Tambang Baik untuk Fungsi Syaraf, Kecuali…

Rabu, 19 Agustus 2020 12:50
Permainan Tarik Tambang Baik untuk Fungsi Syaraf, Kecuali…

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Tak lengkap rasanya perayaan 17 an tidak diisi dengan lomba-lomba yang menghidupkan suasana masyarakat. Dua di antaranya panjat pinang dan tarik tambang.

Namun tahun 2020, terasa berbeda setelah beberapa kota di Indonesia menghimbau agar warganya tidak mengadakan lomba-lomba 17 an seperti biasanya. Namun beberapa ke rt an di seputaran Pekanbaru tetap saja mengadakan lomba-lomba yang dimaksud.

Advertisement

“Bagaimana cara memperingati kemerdekaan RI ke 75? Ya dengan liomba-lomba ini kan. Soal protokol kesehatam, sebisanya kita jaga dengan  maksimal,” kata Nanang seorang peserta lomba tarik tambang di desa Teluk Kenidai Siak Hulu Kampar. 

Desa yang masih berbatas parit dengan Kota Pekanbaru. Jadilah perayaan 17 an di desa itu cukup meriah dengan pertandingan tarik tambang. 

Baca: Bagaimana Seorang Akademisi Bersikap di Tengah Pandemi COVID-19?

Nanang yang memiliki postur tinggi dan cukup kekar itu berhasil membawa timnya menang  hingga 5 kali berturut-turut. Namun Nanang buru-buru pulang ke rumah dengan kepala pusing, dan muntah-muntah. 

Keluarga di rumah pun dibikin risau. Sang istri yang tengah berjualan pun jadi kalang kabut. Antara mencari obat dan melayanin pembeli. Untunglah ada beberap anggota keluarga lainnya di rumah yang segera memberi obat sedanya. 

Agar pusing dan muntah-muntahnya reda. Lalu, timbul pertanyaan, apakah tarik tambang berdampak buruk bagi manusia, jika dilakukan dalam waktu lama?.

“Sepertinya efek langsung ke sistem  syaraf tidak ada, hanya efek cidera akibat olahraga saja. Kecuali kalau pasiennya itu punya penyakit akut sebelumnya, atau akibat kelelahan yang luar biasa dan juga bisa karena mengalami benturan di kepalanya,” kata Dr Sucipto spesialis syaraf Rumah Sakit Prima Pekanbaru satu sore di hari kemerdekaan lalu.

Mengisi Kemerdekaan dengan Mawas Diri

Makna merdeka bagi setiap orang di Indonesia memang berbeda-beda, malah beberapa orang atau komunitas masih menganggap Indonesia masih dijajah olah bangsa asing. Entah itu ekonomi, politik, sosial dan agama. Bagi akademisi Prof Ashaluddin Jalil tetap menyorot pentingnya pendidikan masyarakat.

“Berharaplah semakin dewasa dan semakin mawas diri pada semua lapisan institusi dan benahi pendidikan agar sejalan dengan perkembangan masa terutama perguruan tinggi,” harap guru besar bidang sosiologi demografi ini. (bpc5)