BERTUAHPOS — Saham gorengan perlu dihindari oleh para investor pemula. Di dunia pasar modal, tak semua saham yang naik tinggi menjanjikan keuntungan.
Investor, perlu ekstra waspada terhadap saham gorengan — istilah populer untuk saham yang harganya naik turun secara tidak wajar karena manipulasi pasar.
Saham gorengan biasanya berasal dari emiten dengan fundamental lemah.
Namun, pergerakan harganya seringkali melonjak tajam dalam waktu singkat, kemudian anjlok drastis. Saham jenis ini sering menjadi jebakan berbahaya bagi investor yang tergiur cuan instan.
SEVP Retail Markets & IT PT BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, mengingatkan bahwa saham gorengan bisa menipu siapa saja, bahkan investor kawakan.
Contoh kasus konglomerat India, Gautam Adani, yang kehilangan kekayaan hingga USD120 miliar (setara Rp1.800 triliun) setelah laporan Hindenburg Research mengguncang pasar pada Januari 2023.
“Ini jadi pelajaran besar bahwa saham gorengan tak hanya merugikan investor kecil, tapi juga dapat mengguncang level tertinggi investor global,” ujarnya.
Agar tidak terjerumus dalam saham gorengan, berikut enam tips penting dari Teddy Wishadi:
1. Lakukan Riset Fundamental secara Menyeluruh
Sebelum membeli saham, pelajari laporan keuangan, kinerja bisnis, struktur manajemen, hingga prospek industri. Sumber informasi bisa berasal dari laporan resmi perusahaan, media ekonomi terpercaya, atau analisis tim riset sekuritas. Pemahaman ini membantu investor membuat keputusan rasional, bukan berdasarkan spekulasi.
2. Hindari Saham dengan Volatilitas Tak Masuk Akal
Jika menemukan saham yang dalam waktu singkat melonjak atau anjlok tanpa alasan jelas, patut dicurigai itu adalah saham gorengan. Lakukan analisis menyeluruh, baik secara fundamental maupun teknikal, sebelum memutuskan untuk membeli.
3. Jangan Terjebak Informasi Tak Valid
Rekomendasi saham dari grup media sosial atau broadcast WhatsApp seringkali menyesatkan. Pastikan informasi yang Anda terima berasal dari sumber tepercaya dan telah terverifikasi. Hindari keputusan investasi berdasarkan rumor atau janji keuntungan fantastis.
4. Diversifikasi Portofolio
Jangan menaruh semua modal pada satu saham atau sektor. Diversifikasi membantu meredam risiko jika satu saham turun tajam. Portofolio yang seimbang dapat menjaga nilai investasi dalam jangka panjang.
5. Gunakan Aplikasi Investasi yang Legal dan Diawasi OJK
Pilih aplikasi investasi resmi yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aplikasi legal memberikan perlindungan hukum dan mengurangi risiko penipuan dalam transaksi saham.
6. Patuhi Rencana Investasi dan Hindari Emosi
Investasi saham memerlukan strategi jangka panjang. Jangan tergoda melakukan transaksi impulsif karena fear of missing out (FOMO). Tetap disiplin pada rencana dan tujuan investasi yang telah ditetapkan sejak awal.
“Kunci utama berinvestasi bukan hanya mencari keuntungan, tapi bagaimana mengelola risiko dengan bijak,” tutup Teddy.***









