BERTUAHPOS — Pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal Februari 2026 dinilai dipicu meningkatnya ketidakpastian di sektor keuangan, terutama terkait pergantian pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pada perdagangan Senin, 2 Januari 2026, IHSG ditutup anjlok 406,88 poin atau 4,88% ke level 7.922,73. Sejak pembukaan di posisi 8.306,16, indeks bergerak konsisten di zona merah dengan tekanan jual meluas hampir di seluruh sektor saham.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai fluktuasi pasar saham merupakan dinamika yang wajar, terutama di tengah masa transisi kepemimpinan OJK yang memunculkan ketidakpastian jangka pendek.
Menurut Purbaya, pelaku pasar saat ini cenderung bersikap wait and see sambil menunggu kejelasan siapa yang akan ditunjuk sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK yang baru.
“Pasar mungkin masih menunggu. Ada pergantian ketua OJK, dan ketidakpastian itu sementara. Setelah jelas, biasanya pasar akan menyesuaikan kembali,” ujar Purbaya dikutip dari Kompas.com, hari ini.
Meski IHSG mengalami koreksi dalam, Purbaya justru melihat kondisi ini sebagai peluang investasi. Ia menyebut pelemahan harga saham dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan pembelian pada level yang lebih rendah.
“Kalau saya, justru melihat ini sebagai kesempatan. Harga turun, ya serok ke bawah,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah memastikan proses pengisian jabatan Ketua Dewan Komisioner OJK berjalan cepat. Purbaya menyebut OJK diperkirakan akan memiliki ketua definitif dalam waktu paling lambat dua minggu ke depan.
Ia menjelaskan proses seleksi telah berjalan melalui Panitia Seleksi (Pansel) dan tidak ada arahan khusus dari Presiden Prabowo Subianto terkait penunjukan calon tertentu.
“Saya kira dalam seminggu sudah mulai jelas. Paling lambat dua minggu kita sudah punya Ketua OJK yang baru,” kata Purbaya usai menghadiri Rakornas di Sentul International Convention Center (SICC).
Pergantian pimpinan OJK terjadi setelah Mahendra Siregar mengundurkan diri dari jabatan Ketua Dewan Komisioner OJK, bersama dua pejabat tinggi lainnya, menyusul gejolak pasar yang terjadi pada akhir Januari lalu.
Mahendra sebelumnya menyatakan pengunduran diri tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung pemulihan kepercayaan pasar dan stabilitas sektor keuangan nasional.
Selain Mahendra, dua pejabat OJK lainnya yang mengundurkan diri adalah Inarno Djajadi dan I. B. Aditya Jayaantara. Langkah ini menyusul lebih dulu mundurnya Iman Rachman dari jabatan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Purbaya berharap kejelasan kepemimpinan OJK ke depan dapat meredam ketidakpastian, memulihkan kepercayaan investor, dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik dalam jangka menengah.***









