BERTUAHPOS — Harga emas naik hampir 2% pada perdagangan Senin, 29 September 2025, dan mendekati level tertinggi sepanjang masa di $3.833 per troy ounce.
Penguatan ini terjadi karena investor beralih ke aset aman di tengah ancaman penutupan pemerintahan (shutdown) Amerika Serikat serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Logam mulia sempat mencetak rekor baru di $3.791 pada 23 September lalu, ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi jatuh. Kini, harga emas diperdagangkan di kisaran $3.827.
Potensi macetnya pendanaan federal AS membuat pelaku pasar khawatir. Jika shutdown benar terjadi, data ekonomi penting termasuk Nonfarm Payrolls (NFP) yang dikeluarkan Bureau of Labor Statistics (BLS) bisa tertunda.
Bloomberg melaporkan, BLS bahkan berencana menunda publikasi data jika operasional terhenti.
Sejumlah pejabat The Fed menegaskan sikap hawkish, meski mengakui risiko pelemahan pasar tenaga kerja meningkat.
John Williams dari The Fed New York menyebut kebijakan moneter masih restriktif untuk menekan inflasi.
Sementara Alberto Musalem dari The Fed St. Louis menilai ekspektasi inflasi masih cukup tinggi.
Ketegangan geopolitik juga menopang reli emas. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menguasai desa Shandryholove di Donetsk, Ukraina timur. Kondisi ini memperkuat minat investor terhadap aset lindung nilai.
Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,27% menjadi 97,91, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun ke 4,141%.
Investor kini memperkirakan peluang 89% The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin pada Oktober, menurut data Prime Market Terminal.
Secara teknikal, harga emas tetap bullish di atas $3.800 dengan Relative Strength Index (RSI) masih berada di area jenuh beli (70–80).
Jika harga turun di bawah $3.800, support berikutnya berada di $3.750 hingga SMA 20-hari di $3.666. Namun, selama bertahan di atas level ini, peluang emas menguji $3.850 tetap terbuka.***









