BERTUAHPOS – Harga emas global terguncang pada pembukaan pekan ini setelah ekspektasi perdamaian di Timur Tengah buyar.
Harga emas dunia terpantau melorot tajam seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi global pasca gagalnya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kondisi geopolitik yang memanas ini justru mendorong penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak mentah, yang pada akhirnya memberikan tekanan besar terhadap prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral AS sepanjang tahun ini.
Data perdagangan pada Senin, 13 April 2026, menunjukkan harga emas spot turun 0,7% ke level US$ 4.716,70 per ons, yang menjadi posisi terendah sejak 7 April lalu.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga merosot 1% ke level US$ 4.738,90 per ons. Di saat emas kehilangan kilau, indeks dolar AS justru menguat 0,4%, sebuah situasi yang membuat logam mulia yang dihargakan dalam greenback menjadi jauh lebih mahal bagi para investor global.
Tekanan terhadap aset aman (safe haven) ini semakin berat setelah harga minyak kembali melonjak di atas US$ 100 per barel.
Eskalasi ketegangan dipicu oleh kegagalan negosiasi AS-Iran, di mana Washington dikabarkan tengah menyiapkan blokade di Selat Hormuz guna membatasi ekspor minyak Teheran.
Menanggapi ancaman tersebut, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati wilayah tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, mengungkapkan bahwa dinamika ini mengubah sentimen pasar dengan sangat cepat. “Optimisme gencatan senjata memudar, dan lonjakan dolar serta harga minyak kembali menekan emas,” ujarnya.
Meskipun secara historis emas merupakan aset lindung nilai saat terjadi gejolak, tingginya suku bunga saat ini justru mengurangi daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Kenaikan harga energi yang memicu inflasi membuat bank sentral cenderung menahan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga emas tercatat sudah rontok lebih dari 11%. Menurut Waterer, setiap kali harga minyak kembali menembus angka psikologis US$ 100 per barel, pasar langsung berspekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi.
Dia menegaskan, “Ekspektasi suku bunga inilah yang melemahkan kinerja emas.”
Saat ini, pelaku pasar mulai pesimistis dan menilai peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS tahun ini semakin kecil, jauh dari perkiraan awal yang memprediksi dua kali penurunan bunga.
Kelesuan ini juga merembet ke pasar logam lainnya, di mana harga perak turun 2% menjadi US$ 74,35 per ons dan platinum melemah 0,2% ke level US$ 2.041,40.
Uniknya, palladium justru mencatatkan kenaikan tipis 0,7% ke level US$ 1.530,80 per ons di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih menyelimuti pasar.[]









