• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 29, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Pemerintah Perlu Evaluasi Proyek Besar (Termasuk IKN) Akibat Beban Bunga Utang Negara 2026 Tembus Rp599,44 Triliun

Beban bunga utang APBN 2026 tembus Rp599,44 triliun. Ekonom sebut faktor global, pandemi, dan pembiayaan pasar jadi pemicu, pemerintah diminta waspada.

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
2 Januari 2026
Pemerintah Perlu Evaluasi Proyek Besar (Termasuk IKN) Akibat Beban Bunga Utang Negara 2026 Tembus Rp599,44 Triliun

Uang rupiah pecahan Rp100.000 | Foto: Ilustrasi / Canva.

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Tingginya beban bunga utang negara mengharuskan pemerintah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap proyek-proyek besar, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN). Tahun 2026, negara dibebani utang bunga jumbo dengan nilai mencapai Rp599,44 triliun.

Ini akan menjadi tekanan fiskal yang luar biasa bagi negara, sehingga menurut memerintah lebih selektif dalam membiayai proyek dan memprioritaskan program yang benar-benar berdampak kuat pada pertumbuhan ekonomi nasional, para ekonom.

Adapun beban bunga utang negara di tahun 2026 mencapai Rp599,44 triliun, naik sebesar 8,9% dibanding tahun 2025 sebesar Rp552,1 triliun, dan sebagian besar berasal dari bunga utang dalam negeri.

Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, peningkatan beban bunga ini bukan fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini akibat tekanan struktural yang terus berlangsung.

Kenaikan suku bunga global pasca-pengetatan kebijakan moneter di negara maju membuat proses pembiayaan ulang utang pemerintah—khususnya Surat Berharga Negara (SBN)—menjadi jauh lebih mahal.

“Biaya refinancing meningkat signifikan karena suku bunga global naik, sementara sebagian besar pembiayaan kita berbasis pasar,” ujar Rizal di Jakarta, dikutip Jumat, 2 Januari 2026.

Faktor kedua berasal dari lonjakan utang yang terjadi saat pandemi COVID-19. Saat defisit APBN melebar hingga di atas 6% terhadap PDB, memaksa pemerintah menambah utang dalam jumlah besar. Kini sebagian besar utang tersebut mulai jatuh tempo di tengah kondisi bunga tinggi.

Ketergantungan pada pembiayaan berbasis pasar juga membuat fiskal semakin sensitif terhadap gejolak keuangan global dan persepsi risiko investor.

Meski rasio utang terhadap PDB masih berada di kisaran 39% hingga 40% dan tergolong moderat dibanding banyak negara berkembang, Rizal menilai risiko fiskal tetap besar.

Beban bunga terhadap pendapatan negara tercatat lebih mahal dibanding sejumlah negara Asia, sehingga mempersempit ruang fiskal dan menggerus kapasitas belanja pemerintah untuk pembangunan dan perlindungan sosial.

“Setiap kenaikan bunga akan mengurangi ruang belanja produktif. Dalam jangka menengah, pemerintah bisa menghadapi pilihan sulit antara stabilitas fiskal dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.***

Tags: Analisafinansialnasional
Share6Tweet4Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Organisasi Nelayan Kritik Kebijakan Perikanan Indonesia di SSF Summit Roma
Nasional

Organisasi Nelayan Kritik Kebijakan Perikanan Indonesia di SSF Summit Roma

...

Read moreDetails
Alasan Mengapa Tiga Komoditas Ekspor Senilai Lebih Rp1,2 Triliun Dipelototi DSI

Alasan Mengapa Tiga Komoditas Ekspor Senilai Lebih Rp1,2 Triliun Dipelototi DSI

Harga Emas Dunia Diprediksi Tembus USD5.000 Sebelum Akhir 2026

Harga Emas Dunia Diprediksi Tembus USD5.000 Sebelum Akhir 2026

Jumhur Hidayat Sebut Perdagangan Karbon Jadi Nggak Oke Jika Masyarakat Tidak Sejahtera

Jumhur Hidayat Sebut Perdagangan Karbon Jadi Nggak Oke Jika Masyarakat Tidak Sejahtera

Wamendagri Bima Arya: Masyarakat Adat Harus Jadi Subjek Utama Perumusan Kebijakan

Wamendagri Bima Arya: Masyarakat Adat Harus Jadi Subjek Utama Perumusan Kebijakan

Serambi 2025 Layanan penukaran uang rupiah untuk idulfitri

BI Rate Agustus 2026 Ditahan 5,75%, Bank Indonesia Buka Peluang Kenaikan ke 6,25% Akhir Tahun

Next Post
Kilau Emas dan Perak di Awal Tahun 2026, Berikut Analisanya

Kilau Emas dan Perak di Awal Tahun 2026, Berikut Analisanya

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.