BERTUAHPOS — Pemerintah Provinsi Riau menegaskan arah baru pembangunan ekonomi daerah pada 2026 dengan fokus pada pertumbuhan berbasis kemampuan sendiri. Strategi ini diarahkan agar perekonomian Riau tumbuh dengan mengandalkan potensi lokal, bukan semata bergantung pada faktor eksternal maupun ekspor bahan mentah.
Ini menjadi arah kebijakan baru bagi karena selama ini pertumbuhan ekonomi Riau masih terkonsentrasi pada migas dan perkebunan kelapa sawit, sebagaimana disampaikan Sekdaprov Riau, Syahrial Abdi, dalam Sarasehan Ekonomi Awal Tahun 2026 yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Senin, 19 Januari 2026.
Secara statistik, kinerja ekonomi Riau menggambarkan posisi strategis secara nasional dengan kontribusi 5,14% terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan III 2025. Capaian ini menempatkan Riau sebagai provinsi dengan PDRB terbesar ke-6 secara nasional dan terbesar kedua di luar Pulau Jawa.
Capaian ekonomi sepanjang 2025 menjadi landasan penting bagi Riau untuk merumuskan arah pembangunan ekonomi pada tahun ini dan ke depannya Pemprov Riau, kata Syahrial, tengah melakukan analisis kebijakan dengan fokus pada sektor-sektor unggulan yang memiliki daya ungkit terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. “2026 fokus ekonomi Riau di beberapa sektor unggulan,” katanya.
Adapun fokus pertama pembangunan ekonomi Riau diarahkan pada pertumbuhan berbasis kemampuan sendiri. Konsep ini mendorong daerah untuk memaksimalkan sumber daya yang dimiliki agar pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan dan tahan terhadap guncangan eksternal.
Dia menyebut, bahwa sektor perkebunan tetap menjadi tulang punggung utama, meskipun pembangunan ekonomi Riau tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas saja.
Selain kelapa sawit, Riau juga memiliki komoditas strategis lain seperti kelapa, sagu, dan karet yang dinilai memiliki potensi besar namun belum dioptimalkan secara maksimal dalam rantai nilai industri.
“Selama ini fokus kita di sawit. Padahal kita juga punya kelapa yang potensinya besar, namun belum terkelola dengan baik,” jelas Syahrial.
Kedua, pengembangan kawasan industri untuk memperkuat hilirisasi dan industrialisasi sebagai kunci utama meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. “Struktur ekonomi kita perlu segera bertransformasi,” ujarnya, sebab ketergantungan pada ekspor komoditas mentah dinilai membuat ekonomi daerah rentan terhadap fluktuasi harga global dan tekanan eksternal.
Penguatan industri pengolahan berbasis komoditas lokal diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat ketahanan ekonomi daerah secara jangka panjang.
Ketiga, menjaga stabilitas ekonomi rakyat. Komitmen Pemprov Riau, kata Syahrial, masih sama, yakni memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pengendalian inflasi dan penguatan daya beli masyarakat.
Stabilitas harga dan ketersediaan kebutuhan pokok menjadi fondasi utama agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Harapan kita di 2026, ekonomi Riau meningkat, inflasi tetap stabil, sehingga masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan aman dan kebutuhan dasar tercukupi,” pungkas Syahrial Abdi.***









