BERTUAHPOS — Siapa sangka buah sukun yang dulu hanya identik sebagai teman minum kopi di teras rumah, kini menjelma menjadi komoditas berkelas dan menjanjikan potensi ekonomi baru.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2024 angka produksi buah sukun mencapai 162.357,02 ton. Sehingga pemerintah meyakini bahwa sukun dapat menjadi salah satu komoditi yang berkontribusi besar terhadap sistem ketahanan pangan nasional.
Adapun potensi ekonomi yang menjanjikan, dapat dilihat dari tren permintaan pasar yang terus mendaki. Sepanjang tahun 2023 hingga 2024, ekspor sukun terus mengalir deras menuju negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Belanda, hingga Tiongkok.
Berdasarkan laporan dari Tridge dan data dari Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, permintaan global terhadap sukun tumbuh stabil di kisaran 18,6% setiap tahunnya.
Adapun faktor pendorong stabilnya permintaan, lebih kepada Tren gaya hidup sehat di Eropa dan Amerika Serikat. Permintaan pasar dunia yang tidak lagi hanya mencari buah segar—namun mudah busuk dalam perjalanan jauh — membuat Para eksportir kini lebih banyak memburu tepung sukun sebagai alternatif bahan pangan bebas gluten yang jauh lebih sehat dan tahan lama.
Potensi ekonomi yang dihasilkan dari budidaya ini pun tergolong sangat menggiurkan bagi para petani di pelosok daerah. Merujuk pada riset dalam Proceedings International Indonesia Conference on Interdisciplinary Studies (IICIS), seorang petani yang mengelola setidaknya 10 pohon sukun, bisa meraup pendapatan hingga Rp20 juta dalam sekali musim panen raya.
Keunggulan pohon sukun yang tahan terhadap perubahan iklim ekstrem menjadikannya investasi pertanian yang jauh lebih aman dan minim risiko. Banyak pakar bahkan yakin bahwa sukun sebagai “pohon kehidupan” bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan krisis pangan.
Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang dan terus melakukan berbagai upaya untuk mendorong proses industrialisasi sukun secara masif. Adapun fokus utamanya, lebih kepada teknologi penepungan yang bisa dilakukan di tingkat desa agar nilai tambah produk tetap dinikmati oleh warga lokal.
Dengan masa simpan yang mencapai hitungan tahun dalam bentuk tepung, sukun boleh dikatakan sebagai “senjata utama” untuk mengurangi ketergantungan pada gandum impor nasional.
Saat ini, sentra produksi buah sukun masih terpusat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kedua daerah ini bahkan menjadi pemasok utama kebutuhan sukun nasional maupun pasar ekspor. Adapun sistem pertaniannya, sudah mulai menerapkan teknik budidaya lebih modern guna memenuhi standar kualitas internasional.
Namun, peluang untuk memperluas lahan budidaya sukun di luar Pulau Jawa masih terbuka sangat lebar dan menjanjikan keuntungan besar. Lahan-lahan marginal yang kurang produktif sebenarnya bisa disulap menjadi kebun sukun produktif yang mampu mencetak devisa bagi negara. Jika dikelola secara profesional, Indonesia bisa menjadi eksportir produk sukun nomor satu di dunia mengalahkan pesaing dari wilayah Pasifik.
Selain aspek bisnis, sukun juga membawa misi kesehatan yang sangat kuat bagi konsumen global di tahun 2026 ini. Kandungan indeks glikemik yang rendah membuat sukun sangat ramah bagi penderita diabetes yang ingin tetap menikmati karbohidrat. Informasi literasi dari Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa sukun kaya akan serat dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia modern yang serba sibuk.***









