BERTUAHPOS — Provinsi Riau dianggap potensial menjadi Hub Activity Point (HAP) ekonomi di Sumatera, dengan percepatan pembangunan kawasan industri dan ekonomi khusus. Hal ini dianggap penting jika pemerintah daerah ingin mendongkrak pertumbuhan ekonominya
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan hadirnya kawasan tersebut berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di satu daerah.
“Kawasan ekonomi khusus perlu terus dikembangkan karena terbukti mampu mengungkit pertumbuhan daerah,” kata saat berada di Pekanbaru.
Sementara itu, untuk membangun daerah dibutuhkan data lengkap yang berkualitas. Komitmen Pemprov Riau dalam mewujudkan tata kelola data melalui Program Satu Data diharapkan menjadi awal dari perbaikan itu.
“Riau ini daerah yang kaya budaya dan sumber daya alam. Ini potensi besar jika ditunjang dengan data berkualitas,” kata Amalia.
Gubernur Riau, Abdul Wahid, mengklaim bahwa Pemprov Riau tengah mendorong pembangunan ekonomi berbasis data dan penguatan di sektor industri.
Riau sangat diuntungkan dengan posisi geografis karena letaknya di tengah Pulau Sumatera dan di jalur Selat Malaka. Sementara kekayaan sumber daya alamnya belum dikelola optimal karena terbatasnya industri.
Ke depan, kata Wahid, pemerintah akan akan menata pembangunan ekonomi melalui pendekatan koridor pertumbuhan. Salah satunya mendorong kawasan-kawasan tertentu sebagai pusat ekonomi baru.
Misalnya, usulan strategis menjadikan Pulau Rangsang sebagai Restricted Trade Zone (RTZ) atau zona ekonomi terbatas yang berfokus pada logistik dan perdagangan.
Wahid mengakui bahwa angka kemiskinan di pulau itu sangat tinggi, karena kawasan ini tidak mampu menarik minat industri, sehingga perlu dorongan kuat akan tumbuh menjadi pusat ekonomi baru.
Selain itu, Pemprov juga tengah mempersiapkan kawasan Bukit Batu di Kabupaten Bengkalis sebagai pusat ekonomi baru, termasuk Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) di Siak untuk kegiatan ekspor dan impor.
Sementara di Pulau Burung Kabupaten Indragiri Hilir, tengah dirancang menjadi kawasan industri kelapa, dan diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi wilayah pesisir.
Saat ini, Migas, perkebunan, pulp and paper masih menjadi sektor utama yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Riau. Per 2024, Riau mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,52%, meningkat menjadi 4,65% pada triwulan I tahun 2025.
Wahid mengaku belum puas dengan capaian tersebut. Oleh sebab itu, pembangunan kawasan ekonomi khusus perlu dipercepat. Selain itu, kawasan tersebut juga perlu didukung dengan kegiatan hilirisasi guna membuka ruang lebih luas terhadap lapangan pekerjaan.
Abdul Wahid dan BPS RI sudah MoU untuk Program Satu Data. MoU itu berlangsung di Gedung Daerah Provinsi Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru, 7 Agustus 2025, untuk Program Satu Data Riau.***









