BERTUAHPOS.COM — Pemerintah memprioritaskan negosiasi pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas ekspor utama dalam pembahasan kebijakan dagang dengan Amerika Serikat. Strategi ini dinilai lebih berdampak nyata bagi perekonomian daripada sekadar menekan besaran tarif umum secara global.
Menurut Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, produk seperti sawit, kopi, tekstil, alas kaki, dan furnitur menjadi fokus utama diplomasi. “Kan yang sudah masuk di-exemption-kan, mulai yang sawit, kopi, dan kawan-kawan, sudah,” ungkapnya di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa beberapa kelompok produk tambahan masih akan didiskusikan lebih lanjut untuk mendapatkan status bebas tarif. Upaya ini bertujuan melindungi daya saing produk Indonesia di pasar Amerika yang sangat kompetitif.
“Justru yang lebih penting selain yang secara umum berlaku, katakan nanti dapat 18% dan sebagainya, kita lebih penting juga memperjuangkan yang barang-barang yang real kita ekspor supaya dapat pengecualian,” tuturnya.
Laporan awal dari otoritas AS menempatkan Indonesia dalam kategori ‘good group’ karena kepatuhan terhadap isu kerja paksa dan kapasitas berlebih. Status ini membuka pintu bagi kemungkinan dikenakan tarif tambahan sekitar 10% di luar tarif MFN.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan potensi tarif 12,5% bagi negara-negara yang belum memenuhi ketentuan standar internasional. Susi mengingatkan bahwa semua tarif yang dibahas bersifat on top dari MFN sehingga pengecualian menjadi sangat krusial. “Makanya kita minta pengecualian,” pungkasnya.
Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) sebagai bukti konkret pengaturan perdagangan yang bersih. Regulasi ini menjadi dasar kuat dalam meyakinkan mitra dagang bahwa Indonesia serius memberantas praktik curang.









