BERTUAHPOS.COM — Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan jual pada perdagangan awal pekan ini, Senin (7/9/2026). Kegagalan menembus level resistance krusial di kisaran US$4.440 per ons troi menjadi sinyal bahwa potensi koreksi harga logam mulia ini masih terbuka lebar.
Mengacu pada data pasar terkini, harga emas dunia terpantau melemah 0,62% dan bertengger di level US$4.402,56 per ons troi. Posisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan harga emas harian.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa secara teknikal, grafik harian harga emas masih mengindikasikan adanya peluang pelemahan lanjutan. Kondisi ini diperkuat oleh terbentuknya pola ABC Correction setelah harga gagal menembus level resistance penting.
“Kegagalan menembus level resistance US$4.440 per ons troi menjadi perhatian utama. Selama harga masih berada di bawah level tersebut, tekanan jual berpotensi kembali meningkat,” ujar Geraldo dalam riset hariannya, seperti dilansir dari Investor.id.
Ia memaparkan, area support terdekat yang akan diuji oleh harga emas berada pada level US$4.365 per ons troi. Jika level tersebut tidak mampu menahan laju penurunan, maka koreksi selanjutnya berpeluang mengarah ke level US$4.331 per ons troi.
Lebih lanjut, Geraldo menilai bahwa kemampuan harga emas untuk bertahan di zona support tersebut dapat membuka ruang bagi terjadinya rebound teknikal. Namun, selama level resistance US$4.440 belum berhasil ditembus kembali, skenario koreksi dinilai masih relevan untuk diantisipasi para pelaku pasar.
Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas saat ini turut dipengaruhi oleh sejumlah sentimen yang saling berlawanan. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta gangguan distribusi di kawasan Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi AS. Pasalnya, biaya energi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan biaya produksi dan konsumsi secara lebih luas, yang pada akhirnya memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.
Di sisi lain, meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed justru berpotensi membatasi ruang penguatan harga emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menopang nilai tukar dolar AS serta imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury menjadi faktor penekan utama bagi harga emas. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Setelah rilis data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, fokus pasar kini beralih ke data inflasi. Rilis data Consumer Price Index (CPI) periode Agustus akan menjadi indikator penting bagi pelaku pasar untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi meningkatkan persepsi bahwa The Fed akan menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut dapat kembali memberikan tekanan bagi pergerakan harga emas dunia dalam jangka pendek.









