BERTUAHPOS.COM — Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menegaskan bahwa Provinsi Riau bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga memiliki keunggulan geografis.
“Akumulasi potensi alam yang luar biasa ini tidak akan optimal tanpa SDM yang adaptif dan menguasai teknologi kecerdasan buatan,” ujarnya saat jadi pembicara di UIN Suska Riau, pada 15 Juni 2026.
Berbatasan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional tersibuk di dunia, menjadikan Riau–Malaka sebagai koridor strategis dengan peluang akselerasi sangat tinggi.
Posisi itu membuka jalan bagi Riau untuk bertransformasi menjadi pusat logistik, investasi, dan hub perdagangan internasional kelas dunia. Namun Syahrial mengingatkan, potensi besar ini tidak akan memberikan dampak optimal tanpa dukungan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan menguasai teknologi kecerdasan buatan.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat ekonom senior dari Universitas Riau Dahlan Tampobolon. Ia menyebut, bahwa motor utama perekonomian Riau selama ini, justru ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor.
Dengan begitu, kondisi ekonomi global, menurutnya, jauh lebih menentukan arah pertumbuhan ekonomi Riau dibanding kebijakan fiskal nasional.
Ia menegaskan, ketika ekonomi dunia tumbuh cepat, perekonomian Riau ikut terangkat. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi nasional justru tidak otomatis berdampak besar bagi daerah.
“Kenaikan APBN tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap APBD. Perubahan belanja pusat lebih banyak diarahkan ke program prioritas presiden seperti MBG,” ujar Dahlan.
Dahlan merujuk data BPS yang menunjukkan kontribusi belanja pemerintah—baik APBN, APBD provinsi, maupun kabupaten/kota—sangat kecil dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau.
Belanja pemerintah, kata Dahlan, hanya cukup untuk menjaga operasional birokrasi, bukan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
Sebaliknya, pertumbuhan negara-negara besar seperti Tiongkok dan India justru memberi pengaruh nyata terhadap ekonomi Riau. “Karena keterkaitan erat antara aktivitas ekspor Riau dengan permintaan dari kedua negara tersebut,” ujarnya.
Dengan kata lain, sebut Dahlan, kondisi ini memperjelas mengapa jalur Riau–Malaka menjadi begitu krusial dalam peta ekonomi regional.









