BERTUAHPOS – Ekonomi sirkular kini bukan lagi sekadar isu lingkungan atau urusan kurangi sampah plastik. Lebih dari itu, model ekonomi “hijau” ini resmi diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang sangat menjanjikan bagi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dalam ajang Circular Economy Executive Dialogue 2026 di Gedung BJ Habibie, BRIN, beberapa waktu lalu, Presiden UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), YW Junardy, membedah potensi besar di balik transisi ini.
Menurut mereka, ekonomi sirkular adalah pilar penting untuk meningkatkan daya saing nasional sekaligus mengejar target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Berdasarkan data Bappenas, penerapan ekonomi sirkular pada lima sektor kunci (pangan, tekstil, konstruksi, elektronik, dan plastik) bakal memberikan dampak ekonomi yang masif pada 2030, seperti;
- Lonjakan PDB: Berpotensi menyumbang kenaikan PDB nasional sebesar Rp593 triliun hingga Rp638 triliun.
- Lapangan Kerja Baru: Membuka lebih dari 4,4 juta lapangan kerja hijau (green jobs) yang inklusif.
- Efisiensi Industri: Menekan biaya produksi dengan mengoptimalkan sumber daya domestik dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor.
“Transisi ini bukan cuma agenda keberlanjutan, tapi peluang strategis bagi dunia usaha untuk lebih efisien,” ungkap Junardy.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo AA Teguh Sambodo, mengingatkan bahwa regulasi pemerintah hanya akan menjadi “tumpukan dokumen” tanpa aksi nyata dari sektor swasta.
Pemerintah memang menyiapkan karpet merah berupa insentif dan pembiayaan hijau, namun pelaku usaha ditantang untuk berani melakukan pilot project dan mengadopsi riset terbaru dari BRIN.
Senada dengan hal itu, Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. R. Hendrian, menekankan bahwa ekonomi sirkular adalah instrumen vital agar Indonesia tumbuh sebagai negara maju yang tetap menjaga kelestarian alam.
Sebagai bentuk komitmen, IGCN resmi meluncurkan Circular Economy Working Group (CE-WG). Platform kolaboratif ini bertujuan untuk mendorong inovasi dan aksi nyata antarperusahaan agar solusi sirkular bisa diterapkan dalam skala besar di Indonesia.
Melalui model ekonomi ini, limbah yang dulunya dianggap beban kini berubah menjadi aset berharga. Dengan kolaborasi kuat antara pemerintah, peneliti di BRIN, dan sektor swasta, Indonesia optimistis mampu meraih pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.***









