BERTUAHPOS.COM – AirAsia Group Bhd berencana penghimpunan dana hingga US$1 miliar di pasar utang internasional. Maskapai juga menyiapkan fasilitas kredit domestik senilai RM700 juta.
Pendanaan tersebut ditujukan untuk restrukturisasi atau refinancing utang serta konsolidasi neraca. Perusahaan menegaskan bahwa pinjaman ini bukan sekadar menutup kekurangan dana operasional.
Dikutip dari TheStar, Jumat (04/08/2026), AirAsia menyebut strategi ini sejalan dengan keterbukaan informasi sebelumnya terkait optimalisasi struktur permodalan. Perseroan telah berhasil menghimpun US$300 juta pada Maret 2026 di tengah gejolak pasar global.
AirAsia, Scoot, dan Cebu Pacific melaporkan hasil kuartalan yang mengecewakan. AirAsia dan Cebu Pacific mencatat kerugian bersih, sementara kerugian operasional Scoot hampir berlipat ganda.
Kenaikan tarif yang dilakukan maskapai tidak cukup untuk menutup biaya bahan bakar yang melonjak. Kondisi ini mengungkap kelemahan mendasar dari model maskapai berbiaya rendah.
Bahan bakar menyumbang porsi pengeluaran yang lebih besar dibandingkan maskapai layanan penuh. Namun, penumpang yang sensitif terhadap harga membuat ruang untuk menaikkan tarif sangat terbatas.
“Kuartal kedua merupakan lingkungan operasional paling menantang yang pernah dihadapi Cebu Pacific pasca-pandemi,” kata CEO Cebu Pacific, Mike Szucs.
Biaya bahan bakar Cebu Pacific meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Dampaknya diperparah oleh pelemahan peso sebesar 8 persen.
Cebu Pacific telah melakukan lindung nilai sekitar 30 persen dari kebutuhan bahan bakar kuartal ketiga di bawah US$120 per barel. Langkah ini untuk mengamankan perlindungan jangka pendek.
Nathan Gee, kepala penelitian transportasi Asia-Pasifik di BofA Global Research, membandingkan posisi maskapai layanan penuh dan berbiaya rendah. Menurutnya, maskapai layanan penuh lebih terlindungi oleh permintaan kuat dari penumpang premium.
“Maskapai penerbangan berbiaya rendah kurang diuntungkan karena produk mereka yang lebih mendasar dan program loyalitas yang lebih kecil,” kata Gee.
Scoot terus menambah kapasitas karena permintaan tetap kuat. Namun, biaya per unit penumpangnya meningkat 21,7 persen dalam tiga bulan hingga Juni.
Kenaikan biaya ini mendorong kerugian operasional Scoot menjadi S$32 juta atau sekitar US$25,2 juta. Tahun sebelumnya, kerugian Scoot hanya S$17 juta meskipun tarif lebih tinggi dan tercakup dalam program lindung nilai bahan bakar.
Faktor muatan impas Scoot naik menjadi 100 persen. Artinya, maskapai perlu mengisi setiap kursi untuk menutupi biaya operasional penumpang, padahal faktor muatan aktual hanya 90,6 persen.
Kepala Bagian Komersial Scoot, Calvin Chan, mengakui penyesuaian tarif belum sepenuhnya mengimbangi kenaikan harga bahan bakar. Konflik di Timur Tengah terus membayangi prospek.
AirAsia bersiap menghadapi kuartal ketiga yang lemah. Periode ini biasanya merupakan masa terlemah untuk perjalanan regional.
CEO AirAsia, Bo Lingam, menyebut maskapai mengambil pendekatan taktis yang disengaja. Harga rata-rata bahan bakar jet mencapai US$183 per barel pada kuartal kedua.
AirAsia mencatat kerugian bersih selisih kurs sekitar US$82 juta. Maskapai berencana memulihkan kapasitas ke tingkat sebelum perang pada kuartal keempat dengan pemesanan di muka yang sejalan dengan tahun lalu.
Analis penerbangan independen, Brendan Sobie, menilai prospek jangka pendek agak suram. Anggaran rumah tangga yang terbatas dapat membatasi perjalanan kelas menengah Asia Tenggara selama sisa tahun ini.
“Meskipun ada harapan perbaikan di kuartal keempat, masih terlalu dini untuk benar-benar menilainya,” kata Sobie.








