Sarjana di Eropa Rebutan Pekerjaan Berupah Rendah

Selasa, 19 November 2013 13:10

BERTUAHPOS.COM, New York – Lima tahun paska krisis, ekonomi sebagian negara di Eropa, tampaknya masih belum pulih. Terbukti, angka pengangguran terus meningkat hingga sarjana muda pun sulit memperoleh pekerjaan.

Saat ini, para penyandang gelar sarjana berusia 24 tahun ke bawah bahkan harus berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan sementara dengan upah rendah.

Seperti mengutip CNBC, Senin (18/11/2013), para pemuda di kawasan Eropa Selatan harus menerima kenyataan baru tentang betapa sulitnya memperoleh pekerjaan.

Para pemuda terpelajar dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Hidup dan tinggal di rumah bersama orangtua sebagai pengangguran atau berpetualang mencari kerja ke kawasan Eropa Utara. Risikonya, di luar wilayah asal mereka, para pencari kerja ini akan diperlakukan layaknya pendatang asing.

Baca: Isi Waktu Luang dengan Budidaya Jamur Tiram, Ini Caranya

Di kawasan tersebut, para pemuda mengungkapkan, harus berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan sementara bergaji rendah.

Bahkan kadang, sebagian dari mereka harus rela ditolak mentah-mentah saat mencari kerja. Memang, ketersediaan lowongan pekerjaan di Eropa saat ini sangat terbatas mengingat pemerintahnya masih melakukan program penghematan paska krisis.

Khusus Uni Eropa, penuntasan masalah tersebut justru menjadi urusan politik dan tantangan ekonomi saat memperluas ketidakpuasan populis dengan kepemimpinan di Brussels dan ibukota-ibukota negara.

“Pengangguran muda (berusia 24 tahun ke bawah), mungkin merupakan masalah paling mendesak yang saat ini tengah dihadapi Eropa,” ujar kanselir Jerman Angela Merkel.

Pekan lalu, Merkel juga terbang ke Paris untuk berbaur dengan para pemimpin kawasan Eropa lainnya guna membahas tingginya tingkat pengangguran kaum muda Eropa.

Dari pertemuan yang diprakarsai Presiden Perancis Francois Hollande itu, pemerintah negara-negara Eropa sepakat menggelontorkan dana sebesar 6 miliar euro (Rp 94,2 triliun) guna mendanai program ketenagakerjaan di wilayahnya. Program tersebut rencananya baru akan dimulai tahun depan.

Namun para ekonom menilai dana tersebut tak akan berhasil menutupi angka pengangguran yang sudah melonjak tinggi.

“Kami harap, 2014 akan menjadi tahun pemulihan (Ekonomi Eropa). Tapi saat ini kami masih melihat banyak sekali pemuda yang harus bertahan dan menanggung beban yang sangat berat dalam jangka panjang. Hal ini akan berdampak jangka panjang bagi seluruh generasi,” pungkas Direktur Ketenagakerjaan dan Hubungan Sosial di Organization for Economic Cooperation and Development Stefano Scarpetta.

Hingga September, jumlah pengangguran berusia 24 tahun ke bawah di Spanyol mencapai 56%, di Yunani sebanyak 57%, di Italia sebanyak 40%, di Portugal sebanyak 37% dan 28% di Irlandia.

Sementara setengah dari populasi penduduk berusia antara 25-30 adalah pengangguran. Jumlahnya diprediksi masih akan terus meningkat. (Sis/Nur/liputan6.com)