BERTUAHPOS.COM — Prediksi pasar minyak dunia semakin suram memasuki pertengahan 2026, dengan peringatan keras dari Badan Energi Internasional (IEA) bahwa stok minyak global akan semakin menipis tepat saat permintaan melonjak di musim liburan musim panas, diperparah oleh kekurangan ekspor dari Timur Tengah akibat gangguan geopolitik yang belum mereda.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dikutip dari The Guardian, Minggu, 24 Mei 2026. “Ini mungkin akan sulit dan kita mungkin akan memasuki zona merah pada Juli-Agustus jika kita tidak melihat beberapa perbaikan,” ujarnya.
Birol menyampaikan pernyataan tersebut saat berbicara di hadapan lembaga kajian Chatham House di London, dan menegaskan bahwa solusi paling mendesak untuk mengatasi guncangan energi akibat konflik Iran adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat.
Ia juga menyatakan bahwa IEA terbuka untuk melepaskan lebih banyak cadangan minyak strategis, mengikuti langkah serupa yang sudah dilakukan pada Maret lalu, dengan catatan bahwa 80 persen total cadangan IEA masih belum dilepaskan.
Dalam prediksi pasar minyak dunia yang ia paparkan, Birol menggambarkan situasi saat ini sebagai yang paling berat dalam sejarah energi modern. Ia menyebut; “guncangan minyak kali ini lebih dramatis dibanding tiga krisis sebelumnya, yakni pada 1973, 1979, dan krisis 2022 yang dipicu invasi Rusia ke Ukraina.”
Birol mengungkapkan bahwa sekitar 14 juta barel minyak per hari telah hilang dari pasar akibat gangguan ini. Ia juga tidak melihat prospek pemulihan produksi secara penuh setidaknya dalam satu tahun ke depan, termasuk di Uni Emirat Arab.
Negara-negara yang sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk membiayai anggaran negara, seperti Irak, berpotensi kesulitan berinvestasi kembali dalam produksi minyak selama bertahun-tahun ke depan. Sementara itu, reputasi Timur Tengah sebagai pemasok energi yang andal dinilai telah rusak secara signifikan.
Birol juga menyuarakan kekhawatiran lain di luar prediksi pasar minyak dunia secara teknis. Ia mengaku belum pernah melihat bayang-bayang geopolitik yang begitu gelap dan panjang mendominasi sektor energi seperti saat ini.
“Kita perlu mewaspadai potensi penyalahgunaan situasi ini oleh partai-partai ekstremis di Eropa yang bisa saja mengeksploitasi inflasi yang akan datang. Harga minyak ditentukan secara internasional, bukan merupakan kegagalan sistem politik dalam negeri masing-masing negara,” tegasnya.
Di sisi lain, Iran juga tidak luput dari tekanan, karena negara itu dinilai tidak memiliki kapasitas penyimpanan minyak yang tak terbatas dan industrinya diprediksi akan menghadapi kesulitan serius. Kondisi ini turut mempengaruhi prediksi pasar minyak dunia yang kian tidak menentu dalam jangka menengah.
Birol memperkirakan pemerintah di seluruh dunia akan segera meninjau ulang strategi energi mereka dan aktif mencari opsi impor baru dari sumber yang lebih andal.









